Cerita Nyak

Dia, Kakak Terbaik yang Kupunya

img-20161108-wa0001

Selama ini, banyak yang mengira bahwa saya adalah anak pertama. Kecuali tetangga dan teman satu kampung, sedikit yang tau bahwa saya punya satu kakak laki-laki. Mas Idan, demikian panggilan orang-orang yang mengenalnya kini. Namun saya dan adik-adik memanggilnya Kakang.

Lalu kenapa jarang yang tau tentang Kakang?

Yang pertama mungkin karena usia kami terpaut cukup jauh, 8 tahun. Yang kedua mungkin karena Kakang pergi dari rumah dari usia belia, selulus dari MMU (Madrasah Mamba’ul Ulum) setingkat SMP. Itu berarti usia Kakang baru 15 tahun dan saya…7 tahun.

Sampai sekarang bahkan saya nggak ingat momen perginya Kakang. Saya hanya tau dari cerita simbok kalau Kakang ikut Bulek kerja di Jakarta. Kerja apa? Mbuh.

Masa Kecil Saya Bersama Kakang

Tidak banyak yang saya ingat dari masa kecil sama bersama Kakang. Hanya teriakan dan tangisan karena keusilan Kakang saat itu. Suka pura-pura mati, dan membuka mata saat saya benar-benar menangis. Dan bodohnya saya tetep berhasil kena jebakan betmen itu meski sering sekali dilakukan Kakang.

Saya juga ingat Kakang mengajari saya naik sepeda. Berkali-kali saya jatuh, tapi Kakang menyuruh saya kembali bangun. Iya saya nangis lah. Wong sakit banget. Untung saat itu halaman dan jalan sekitar rumah masih tanah, bukan cor-coran semen kayak sekarang.

Toh akhirnya saya seneng banget akhirnya bisa gowes sepeda roda dua, meski belum bisa naik ke sadelnya dan mengayuh sambil berdiri. Tau sepeda jengki? Ya begitu itu yang saya naikin.

Kakang juga super rajin ngajarin saya baca. Saya inget banget guru TK terheran-heran karena pertama kali sekolah, saya sudah lancar membaca nama-nama hari di kalender :D.

[Baca Juga: Rotun Si Anak Dusun]

Kakang Pulang untuk Pertama Kali.

Saya kelas 6 waktu itu. Bergegas pulang ke rumah karena Kakang pulang, kata tetangga saya. Kakang yang 5 tahun saya nggak ketemu. Saya ingat saat itu Kakang hanya membawa oleh-oleh berupa…permen kopiko. Mungkin Kakang membelinya di pedagang asongan di atas bis. Kakang memeluk saya sambil menangis, dan meminta maaf karena Kakang belum sukses.

Ah, saya malah belum mengerti benar apa itu sukses. Bagi saya, bertemu kembali dengan Kakang sudah cukup untuk membunuh rindu saya yang menggunung.

Hasil yang tidak pernah menghianati usaha.

Kakang pernah menjadi tukang cuci piring di warung makan, pernah menjadi penjaga rental VCD, pernah bekerja menjual sate hingga akhirnya diajak oleh adek iparnya Bulek untuk menjadi sopir pribadinya.

Om Ito, seorang kontraktor sukses, mengubah hidup Kakang menjadi lebih baik. Tidur nyaman di rumahnya, ikut jalan kemanapun Om pergi. Namun itu hanya berbentuk kenyamanan. Gaji Kakang hanya ‘gaji saudara’.

Kehidupan Kakang merangkak naik saat hijrah ke Palembang. Kakang ikut adek ipar Bulek yang lain bekerja di Samsat Palopo, membuat plat kendaraan bermotor. Kakang sering mendapatkan tip, sering dimintai tolong untuk mengurus STNK.

Sejak saat itu Kakang sering sekali mengirim uang, terutama untuk saya yang saat itu duduk di bangku SMA. Di SMA pula saya pertama kali menelfon Kakang lewat wartel, meski lebih sering surat menyurat tentu saja.

story of my life
Kakang (berbaju merah) saat pulang di tahun 2012

Menikah dan Cobaan Kakang yang Lain

Tahun 2006, di usia 29 tahun, Kakang meminang gadis Palembang pujaannya. Pernikahannya cukup meriah. Kakang mengirimi kami sejumlah uang untuk pergi ke Palembang. 3 hari 2 malam perjalanan lewat jalur darat dengan bus Putra Remaja.

Setelah menikah Kakang berhasil membeli sebuah rumah. Masya Allah, hal yang nggak bisa dibayangkan sebelumnya. Rumah yang tadinya sederhana diperbaiki sedikit demi sedikit hingga menjadi sangat layak huni.

Hanya saja, keluarga kecil Kakang belum juga dikaruniai buah hati. Istri Kakang sempat keguguran, lalu kosong lamaaa sekali. Pernah dua kali hamil dan dua-duanya berakhir keguguran dan harus kuret.

Kesabaran Kakang dan istrinya diuji dalam waktu yang nggak sebentar: 10 tahun.

Selama itu tak terhitung berbagai upaya yang mereka jalani. Dari yang tradisional hingga modern. Dari mengikuti berbagai artikel di majalah, hingga mengikuti program hamil dari dokter.

Hingga mereka sampai di titik pasrah. Mereka hentikan semua program. Lillahi ta’ala saja, kalau Allah masih berkenan memberi amanah, toh nanti pasti akan datang. Kalau tidak, yasudah, mungkin ini yang terbaik. Begitu kata Kakang. Tapi tetap saja Kakang sering menangis kalau membayangkan nanti dia tidak punya keturunan. Padahal umurnya sekarang sudah tidak muda lagi.

Hingga akhirnya….

Istri Kakang hamil. Lagi.

Bukan main dijaganya itu kandungan, mengingat riwayat 3 kehamilan sebelumnya berakhir dengan kuret. Namun apa daya manusia tanpa seijin Allah. Di usia 7 bulan, ibu mertua Kakang terserang stroke. Lumpuh dan praktis harus dirawat total. Istri Kakang sebagai anak pertama memegang kendali, karena adik-adiknya semua bekerja.

Saya ingat malam itu Kakang menelfon sambil menangis, minta doa agar istri dan anaknya bisa selamat. Istrinya mengalami pendarahan dan saat itu sudah berada di rumahs sakit.

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Meski sempat kritis bakda operasi, ibu dan anak itu akhirnya selamat. Meski harus dibayar dengan sangat mahal. Sebelumnya Kakang sudah berencana membuat kartu BPJS untuk lahiran istrinya. Namun karena usia kandungan masih 7 bulan, Kakang menunda. Dan apa mau dikata, anaknya lahir prematur.

Untuk biaya operasi dan perawatan intens Anin, keponakan baru saya, menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan diijabahnya doa Kakang, dengan tumbuh sehatnya Anin seperti sekarang hingga tak ada yang menyangka dia dulu lahir prematur.

Jpeg
Anin dan Simbok lebaran kemarin^^ Inget banget ini moto pake handphone Kakang, ASUS Zenfone 2 Laser ze550kg.

Jadi Kakang,

Barakallah sekali lagi untukmu, juga untuk keluarga kecilmu. Akhirnya kita kembali mendapatkan pelajaran, bahwa Allahlah Maha Penentu Segala. Bahwa hanya DIAlah yang tau apa-apa yang terbaik buat hambaNya, dan akan memberikannya di waktu yang paling tepat. MenurutNya tentu saja.

Semoga Kakang bisa mendidik Anin menjadi anak yang murah hati sepertimu. Anak dengan kesabaran seluas kesabaranmu. Menjadi perempuan tangguh yang akan berjuang demi hidupnya dan demi orang-orang yang dicintainya, sama sepertimu, dulu, kini dan nanti.

Semoga kisah tentangmu yang kutulis ini, bisa menginspirasi siapapun. Yang sedang berjuang demi hidup yang lebih baik, maupun yang sedang menanti hadirnya buah hati.

Dan semoga kehidupanmu akan membaik seperti dulu lagi, atau bahkan lebih. Kakang orang baik, dan Allah sayang orang baik :).

Β 

Salam,

pinky

25 Comments

  1. Aaahhh aku terharu. Salam untuk Kakang dan keluarga. Aku belajar banyak dari cerita Kakang dalam memperoleh keturunan, sabar dan tawakal. Semoga keluarga Kakang selalu dilindungi Allah ya.

    1. Aku pas nulis ini juga inget kamu, Mba.
      Allahumma Amin, doa yang sama untukmu, Mba :*

  2. Saya jadi ingat almarhum kakak saya, meski saya masih punya dua kakak lelaki yang lain, dia memang yang istimewa bagi saya

    1. Innalillahi, sudah lama kah meninggalnya Mba? Al Fatihah untuk beliau.

  3. sama mbak, aku juga sering dikirain anak sulung padahal aku anak nomor dua hehe

    1. Nah, aku juga nyangkanya gitu Mba Tuty. Ternyata ada kakaknya ya? Sama dong nasib kita πŸ˜€

  4. masya Allah…buah kesabaran itu manis banget ya mba..masya Allah terharu bacanya

  5. Amin. Smoga kakak dan keluarga diberi kelimpahan rezeki dan selalu dalam perlindunganNya.
    Btw dedeknya lucuuu, sehat-sehat selalu ya Dek.

    1. Amin, makasih Mba Li :*
      Hihi, iya Mba. Ngangenin banget itu si Anin. Sayang jauh, nggak bisa sering2 ketemu πŸ™‚

  6. aku sayang kakangku malah melebihi bapakku, dia ada dri aku kecil dan selalu jadi pelindung keluargaku, thanks Nyak buat selalu ingetin, kakakngku itu sprti bapak buatkun

    1. Sama-sama Nyi. Semoga Kakak kita diberikan umur panjang dan hidup yang berlimpah keberkahan ya :’)

  7. Nyak kalo nulis beginiii niih…jagoan pissan.

    Menguras air mata, mengaduk emosi.

    Haiaah..^^

    Jadi pingin nulis ttg kaka.
    Tapi masku ada 3.
    Gimana nulisnya yaa..?

    1. Hatur nuhun, Lendy sayang :*
      Ayo nulis juga, digilir gitu mase, gantian. hihi.

  8. Mirip perjalanan hidup suami nyak.. harus merantau jauh dari orang tua di usia yg masih muda. Hidup dg lika likunya, membuat uni banyak belajar dr beliau.. kadang suka nangis denger kisahnya, huhu..

    1. Iyakah, Un? Masya Allah, perjalanan kehidupan yang kayak gitu bikin seseorang taft ya.
      Semoga kita bisa sama-sama belajar dari mereka πŸ™‚

  9. Masa masa kita sudah berkeluarga adalah ketika kita sudah tidak bersama dg orang orang terdekat kita dulu. Ada masa kita kangen berat sama mereka ..aku juga sering ngalamin hal ini kangen sama Adek, ayah. Karena aku gak punya kakak hehe..

    1. Bener banget Mba. Apalagi kalau tinggalnya berjauhan. Kayak keluargaku gini Mba. Satu di Palopo, satu di Palembang, ada yang di Jakarta dan Bandung juga.Paling kumpul pas lebaran, itupun nggak tiap tahun :’)

  10. Ayu niya

    MasyaAllih.. Nyak.. Gua hidup jaman kapan.. Baru nyasar di blog ini!! Gara2 baca artikelnya nyak ttg mb april.. Alhmdlah.. Terdampar d blog skeren ini.. Hehehe

    Sy juga lagi penantian nyak.. Blm diberi amanah juga.. Salam buar kluarga kakang..
    Sukaa banget baca blog nichenya parenting, kehidupan kluarga kaya gini..

    Makasi nyak ur my inspiration *halah*
    Sampe nglembur baca smua artikel disini.. Fyi kalo sy kebalikannya nyak rotun.. Anak kota yg jadi anak desa

    1. Masya Allah, tabarakallah…
      Aku speechless baca komenmu Mba. Makasih banyak yaaa.
      Makasih udah berkenan baca, makasih juga apresiasinya^^

      Ikut mendoakan semoga penantiannya juga berbuah manis, di waktu yang paling tepat insya Allah.
      Terimakasih sekali lagi. Jangan bosen main2 lagi ya:*

  11. Asli terbawa emosinya. Salam buat Anin yg manis, semoga jadi anak sholeha ya, dek :*

    Nanti mbak Rotun pas ke Palembang kita kopdaran ya ^^
    Kalo ke Bandung juga #lho

    Btw, pas bagian jahilnya kakang yg suka pura-pura mati itu aku ngakak loh. Soale sama. Aku juga suka gitu ngejahilin adekku. Dia nangis sesenggukan dan rasanya gemes banget. Adekku itu sama kaya Mba Rotun. Kejebak terus. Hihihi.

    What a lovely memory!
    Nanti mau cerita soal jahil2an aahh… Terinspirasi nih makasih, Mbak

    1. Lho, emang Alma di mana? Aku kemana-mana kita kopdar, gitu? Hahaha

      Hooo, ternyata dirimu jahil juga ya πŸ˜€
      Iya, manis banget ya pas dikenang. Ayo nulis juga, colek2 nanti biar aku mampir.

  12. Dari kecil kepengen banget punya kakak laki-laki. Apa daya aku anak pertama, Mba. Hehe.. Beruntungnya Mba punya Kakang. Sehat selalu ya untuk Kakang dan Keluarga πŸ™‚

  13. Kakangnya hebat! Semoga urusannya dimudahkan oleh Allah. Salut, nyak!

    1. Allahumma Amin.
      Makasih Mba Len :*

Leave a Reply

Required fields are marked*