Matrikulasi IIP

[Matrikulasi IIP] HNW #1: Adab Menuntut Ilmu

hnw1-matrikulasi-iip

[su_note note_color=”#FAAFBE”]Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia.[/su_note]

Bismillah.

Materi pertama di Program Matrikulasi IIP adalah tentang adab-adab menuntut ilmu. Sebenernya mau nanya sih ke ketua kelas boleh nggak kalau materi yang didapat dishare di blog ini. Tapi karena belum nanya, jadi nanti dulu lah ya. Insya Allah kalau memang boleh akan segera saya update.

Seperti di video yang saya share di introduction, setiap selesai materi maka peserta akan diberi nice homework (NHW) untuk mengikat ilmu yang didapat. Nah, untuk materi adab menuntut ilmu, berikut adalah PR yang diberikan beserta jawaban saya :).

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Mau cerita dulu, jadi pas HNW ini dugulirkan, langsung riuh rendah deh grup Sulsel. Why? Pada bingung passionnya apa, hihi. Kentara banget ya, kalau selama ini ibu-ibu cenderung mengutamakan keluarga, suami dan anak-anaknya, hingga  lupa bahwa dirinya sendiri sebagai pribadi yang utuh, pun punya hak. Hak untuk berkembang, hak untuk memiliki keinginan dan cita-cita yang nggak harus dikubur dalam-dalam lantaran berfikir, “Ah, wong udah jadi Ibu kok. Ya sudah tinggal mengabdikan diri saja sama keluarga. Nggak usah mikir macem-macem, nggak usah pengen macem-macem. Gini aja cukup”.

Padahal menjadi istri dan ibu sama sekali bukan alasan kita untuk berhenti belajar. Dan yang perlu diingat, passion ini yang akan menjadi charger energi kita agar tetap waras dalam menjalani hari sebagai ibu yang tau sendiri ya: luarr biasaaaa. Tanpa adanya passion, seorang ibu cenderung dilanda rasa bosan dan jenuh. Tapi kalau kita punya passion dalam suatu bidang, kita bisa menjadikannya tempat menepi dari rutinitas yang ada. Melepas penat, mengerjakannya dengan suka cita dan semangat. Ya namanya juga passion. Kalau nggak semangat, namanya lotion *eh :p.

Terus passionmu apa, Nyak?

Ada yang tau?

Iyes, blogging! Dan karena katanya boleh lebih dari satu, nambah dua lagi deh ya: cooking dan food photography.

2. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

– Blogging –

Alasan terkuatnya karena saya cinta menulis. Saya menggilai menulis. Menulis bagi saya menjadi semacam terapi, stress release dan self healing yang cukup efektif. Saya belajar mentransformasikan emosi yang saya rasakan melalui menulis. Dan meski menulis bisa dimana saja, tapi pada akhirnya saya menemukan media yang klik, yaitu blog.

Blog membuat saya belajar menulis lebih baik, menyaring apa-apa yang sekiranya masih pantas ditulis dan mana yang harus saya simpan sendiri. Kalau nulis di diary kan, boro-boro mikirin nyaring ya. Apa aja keluar deh, hahaha.

Blog juga mempertemukan saya dengan banyak teman baru. Membaca komen-komen yang masuk di blog itu bikin bahagiaaaa deh. Ternyata ada yang punya cerita sama, atau ada yang memberi saran atas curhat/masalah saya, ada juga yang malah balik curhat. Nah :D.

Dan semakin menekuni dunia blogging, saya semakin belajar banyak hal. Selain memperbaiki kualitas konten, saya juga belajar mempercantik tampilan blog, belajar teknik SEO meskipun masih level remah rengginang, hingga belajar memonetisasi blog saya. Hasilnya? Alhamdulillah, ada aja job yang dateng. Bisa buat beli susu anak, nraktir suami atau beli lipstik baru. Eh, nggak deng, ditabung kok. Ditabung untuk kemudian diambil kembali, hahaha.

– Cooking –

Nah, kalau yang satu ini awalnya adalah the power of kepepet. Tadinya nggak bisa masak dan males belajar masak. Level dasaaar banget lah. Yang penting bisa numis sama goreng-goreng. Udah. Pengen makan enak sesekali beli. Banyak kok yang jual.

Hingga kemudian ‘dipaksa’ hijrah ke Palopo dua tahun lalu menemani suami yang penempatan di sini. Masalah mulai muncul yaitu, nggak terlalu cocok sama makanan yang dijual. Awal-awal tersiksa banget. Pengaruh homesick juga kali ya. Perasaan makan apa aja nggak enak. Akhirnya memutuskan masak sendiri. Coba-coba resep, suami dan anak-anak suka, ketagihan deh. Ternyata mencoba resep dan berpetualag di dapur itu seru dan menyenangkan. Apalagi kalau lihat suami dan anak-anak makannya lahap. Wih, hilang rasanya semua lelah.

Boong deh. Lelah dan kemringet mah tetep aja ya, hihi.

– Food Photography –

Kalau yang ini masih ada hubungannya dengan passion memasak. Jadi dulu tuh saya kalau nyari resep di Insragram. Selain resepnya singkat-singkat, saya juga dimanjakan dengan tampilan makanan yang wow banget. Bikin ngences deh.

Akhirnya setelah selesai masak, saya coba plating dengan melihat di akun-akun food blogger. Ternyata belajar styling dan komposisi makanan itu mengasyikan banget lho. Jepret. Upload deh. Dan katanya bagus. Yeaaayy.

Malah akhirnya saya membuat satu blog lagi khusus untuk dokumentasi resep dan foto-foto saya. Mau lihat? Cuss ke dapurotun.com ya ;). Berikut beberapa contohnya:

[su_slider source=”media: 1852,1635,1636″ title=”no”]

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

– Blogging –

Dunia blogging saat ini sedang berkembang pesat. Banyak banget workshop dan pelatihan tentang blogging. Tapi saat ini saya terkendala jarak sih, karena biasanya pelatihan seperti itu hanya ada di kota-kota besar. Lalu bagaimana? Thank’s to internet, yang membuat dunia tanpa batas. Saya bisa bergabung dengan banyak komunitas dan pelatihan blogging melalui dunia maya. Banyak banget ilmu yang bisa di serap dari mastah blogger, asal kita mau belajar dan jangan malas praktek.

– Cooking –

Satu mantra yang saya pegang untuk urusan memasak adalah:

[su_note note_color=”#FAAFBE”]Try new recipe, learn from your mistake. be fearless and have fun![/su_note]

Ya, hanya itu. Karena saya percaya bahwa memasak itu bukan bakat khusus yang hanya segelintir orang yang punya. Tapi siapapun bisa. Asal mau mencoba. Gagal ya coba lagi, nggak usah takut. Dan yang paling penting, bersenang-senanglah di dapurmu :).

– Food Photography –

Selama ini senjata saya untuk memotret masakan hanya kamera ponsel. Meski begitu saya nggak berkecil hati, karena toh saat ini banyak banget orang yang mengandalkan kamera ponsel untuk memotret. Asal bisa menyiasati dengan pemilihan angle dan styling yang pas, hasilnya juga oke kok.

Tapi saya tetap bermimpi suatu saat saya bisa membeli kamera DSLR. Agar saya lebih bisa mendalami ilmu tentang fotografi makanan dan bisa menjadi food blogger atau food photographer yang profesional. Amin ya Rabb.

Selain online, saya juga akan membeli buku-buku tentang food photography, juga mulai mencicil properti foto. Sekarang sih udah punya, tapi masih terbatas banget.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Malas, suka menunda-nunda, dan merasa diri sudah bisa. 3 sikap itu yang selama ini masih menjadi penghalang besar dalam menekuni passion saya.

Pengeeen banget membuat waktu nulis minimal 2 jam dalam sehari. Soalnya yang namanya punya dua balita, kalau nggak dipaksa kayaknya kok waktu habis terus. Saat anak-anak tidur, pengennya ikut tidur/istirahat *___*

Selama ini saya mikirnya nulis sesempatnya aja, tapi ternyata salah. Sering mikir, ah nanti sempat nih pas anak-anak tidur siang. Ternyata anak-anak nggak tidur. Menunda-nunda, sampai akhirnya deadline di depan mata, kalang kabut sendiri. Hiks.

Saya juga ingin selalu menjadi gelas kosong saat tengah membaca atau menuntut sebuah ilmu. Jadi jangan sampai ada perasaan ‘Ah, udah bisa inimah. Gampang’. Astaghfirullah. Semoga Allah menghindarkan saya dari sifat yang demikian.

***

Alhamdulillah, selesai nyetor NHW #1. Yeaaay!

Siap menerima materi berikutnya. Insya Allah.

Hamasah!

pinky

2 Comments

  1. membuka wawasan untuk memulai usaha

  2. pernah dengar ibu profesional…aliran parenting skrg bnyk ya…tp menarik materinya

Leave a Reply

Required fields are marked*