Marriage

#MondayMarriage: Mengkomunikasikan Emosi Negatif Pada Suami, Apa Pentingnya dan Bagaimana Caranya?

Β tips-mengkomunikasikan-emosi-negatif-nyakrotun-com

Mengkomunikasikan emosi negatif pada suami adalah bagaimana caranya agar suami benar-benar memahami emosi yang sedang kita rasakan. Karena bagaimanapun, bagi seorang wanita dipahami perasaannya adalah sebuah kebutuhan dasar. Yang menjadi permasalahan adalah: bagi pria, memahami perasaan adalah hal sulit jika kita tidak mengkomunikasikannya. Maka disitulah pentingnya komunikasi.

Seperti halnya menjadi seorang ibu, menjadi istri bagi saya juga adalah sebuah proses dan perjalanan yang panjang dan penuh liku. Hidup bersama seseorang yang berbeda planet -men are from mars, women are from venus- menghadirkan bergitu banyak warna dan tentu saja perbedaan.

Dan menyatukannya di bawah satu atap, bukanlah perkara mudah. Harus banyak kompromi dari hal remeh sampai hal besar. Makanya selain ilmu parenting, saya juga suka banget belajar tentang hubungan suami istri, tentang ilmu pernikahan dan fiqih rumah tangga. Bisa dari membaca buku, kajian online, maupun ikut webinar (web seminar).

Beberapa abad minggu yang lalu mungkin ada yang sempat membaca status FB plus screen capture dari sebuah webinar yang saya ikuti. Webinar yang diadakan oleh Elhana Learning Centre ini mengangkat tema menarik yang kayaknya menjadi masalah bagi sebagian besar istri:

Mengkomunikasikan Emosi Negatif pada Suami.

Saya pribadi sering begitu. Kesulitan dalam mengkomunikasikan emosi negatif ke suami. Mau kesel, cemburu, marah, bete, maka reaksi yang keluar hampir sama: ngambek, cemberut dengan bibir ditekuk, senyum sudah dipastikan hilang entah ke mana, dan paling mentok, nangis.

Saya berharap dengan ekspresi dan tangisan saya, suami akan mengerti apa yang saya rasakan.

Berhasil? Enggaaaaakk.

“Kamu kenapa?”

“Nggak papa”

“Oh”

Lalu dia asik lagi dengan aktivitas sebelumnya -___-

Eh tapi masih mending sih ditanya, karena kadang dia nggak nanya. Mengira kita ngambek mungkin lagi PMS, yang bakalan tambah ngajak perang kalau ditanya-tanya. Atau misal kita ngambek sambil mogok makan dikiranya lagi diet -_____-

Baca: Istri Sensi vs Suami Cuek

Ada yang senasib? Kira-kira kenapa ya begitu?

Karena eh karenaaa laki-laki yang jadi suami kita itu, manalah tau apa yang kita rasakan kalau kitanya aja nggak ngomong. Sesimpel itu. Mereka itu bukan cenayang yang bisa membaca pikiran kita hanya dengan menatap mata.

Tatap mata saya.

Tatap mata saya.

Nyak, plis.

Hahaha. Oke, selengkapnya akan saya jabarkan di tulisan ini ya. Tentang webinar yang saya ikuti kemarin. Pengisinya adalah psikolog Mba Lita Edia.

Bahasan kemarin cukup panjang dan rinci, antara lain: Kenapa sih kita harus belajar untuk membangun komunikasi yang baik? Apa tujuan akhirnya? Bagaimana sih komunikasi yang baik itu? Apa pentingnya memahami diri dan pasangan? Dan akhirnya apa saja tips mengkomunikasikan emosi negatif ke pasangan?

Oke, kita mulai ya.

Mengapa kita perlu membangun teknik komunikasi dengan pasangan?

tips-mengkomunikasikan-emosi-negatif-ke-suami2-jpg

Karena ternyata banyak sekali kasus rumah tangga yang akar permasalahannya adalah gagalnya komunikasi antara suami istri. Saat akar masalahnya adalah komunikasi, maka kunci untuk menyelesaikannya juga adalah komunikasi.

Semuanya pasti sepakat ya bahwa hal terpenting dalam membangun rumah tangga adalah komunikasi. Komunikasi adalah koentji!Β Dengan keterampilan komunikasi, maka masalah yang mudah akan tetap mudah dan yang sulit akan lebih mudah.

Sering dengar permasalahan yang sebenarnya sederhana tapi seolah-olah begitu besar? Salah satu penyebabnya adalah gagap komunikasi yang menyebabkan banyak salah paham sehingga masalah yang ada semakin ruwet.

Terus gimana dong kalau sekarang kayaknya kita ini termasuk orang yang gagap dalam berkomunikasi? Susah mengutarakan apa yang kita rasakan?

Nggak usah berkecil hati. Kemampuan komunikasi itu bukan sebuah bakat khusus kok yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Tapi merupakan sebuah keterampilan yang bisa diperoleh oleh siapa aja yang mau belajar dan berlatih.

Latihannya berapa lama? Yang jelas nggak sebentar. Bisa 5 tahun, 6 tahun, atau bahkan 10 tahun, karena sembari berlatih, kita juga belajar mengenal dan memahami karakter suami kita.

Jadi, udah pada latihan berapa lama nih? πŸ˜€

Apa tujuan kita mengkomunikasikan emosi negatif ke suami?

Iya, buat apa sih? Kenapa harus repot-repot berlatih untuk mempelajari teknik komunikasi? Dalam hal ini lebih khususnya adalah menyampaikan emosi negatif yang kita rasakan agar diketahui oleh suami. Udahlah disimpen sendiri aja, nanti juga akan sembuh seiring waktu.

Oh, nggak bisa Sis. Itu menyalahi kodrat. Karena kebutuhan yang sangat mendasar wanita itu: INGIN DIMENGERTI. Saat perasaan kita nggak dimengerti, maka itu akan menjadi hal yang sangat merisaukan dan membuat kita merasa nggak bahagia. Betul nggak?

Then problemnya adalah, bahwa laki-laki itu kebalikannya. Mereka sangat sangat sulit mengetahui apa yang kita rasakan kalau kitanya nggak ngomong. Dan kita kalau lagi bete alias lagi punya emosi negatif, susah banget ngomongnya ya kan? Gitu deh alur permasalahannya.

Kadang kita mengira laki-laki itu sama kayak kita. Bisa memahami perasaan seseorang hanya dari mimik muka dan bahasa tubuh. Ya padahal itu memang fitrah kita. Kita diciptakan menjadi makhluk yang memiliki kepekaan terhadap perasaan orang lain, yang sebaliknya itu hal yang sangat susah buat seorang laki-laki.

Jadi udah paham dong ya kalau kita mau dimengerti, kitanya harus ngomong dengan cara yang bisa dimengerti oleh suami. Bukan dengan cara galau, rungsing nggak jelas, ngambek dan..nangis. Iya, ngerti banget kalau ngomong ke suami pas lagi emosi itu nggak mudah. Makanya kita mau belazaaar.

Mau ikut? Yuk lanjut…

Sebelum dilanjut, kita evaluasi dulu yuk, apakah selama ini komunikasi kita sudah cukup efektif dan efisien.

Caranya? Kalau selama ini ternyata kerap kali seorang istri melakukan komunikasi namun dalam prosesnya sangat menyedot energi dan pikiran, lelah hayati karena abang nggak ngerti-ngerti, maka dikatakan komunikasinya nggak efisien.

Di sisi lain, udah berbusa-busa njelasin ternyata suami nggak paham juga, berarti ya nggak efektif. Jadi poin yang ingin kita capai dan latih adalah komunikasi yang efektif dan efisien, bukan sekedar ngomong dan meluapkan emosi yang kita rasakan, tapi bagaimana caranya agar pesan yang kita sampaikan bisa sampai dan diterima dengan baik.

Kunci Komunikasi yang Efektif dan Efisien

tips-mengkomunikasikan-emosi-negatif-ke-suami1

Sebelum ke kuncinya, kita pahami dulu bahwa ada 3 aspek dalam komunikasi yang saat ini sedang kita pelajari. Biasanya kesulitan komunikasi muncul dari 3 aspek ini, yaitu:

  1. Pemberi pesan: istri.
  2. Pesan: emosi negatif.
  3. Penerima pesan: suami.
  • Pentingnya memahami diri dan pasangan

Ada yang bilang, bahwa wanita itu ingin di mengerti, tapi bagaimana kita ingin dimengerti kalau kitanya aja kurang mengerti diri sendiri, kurang memahami kondisi psikologis kita sebagai seorang wanita dan istri.

Kadangkala, kita kurang mengerti apa yang sebenernya kita rasakan. Marahkah? Takutkah? Cemburukah? Yang ada kita hanya menggalau nggak jelas. Lalu bagaimana mungkin kita bisa ngasih tau suami apa yang kita rasakan kalau kitanya aja bingung. Ya kan? Ditambah lagi, kita juga kurang memahami dinamika psikologis suami kita. Komplit ya *nyengir*

  • Mengenal 6 emosi dasar

Emosi adalah suatu kondisi perasaan yang dialami akibat perubahan fisik dan psikologis. Emosi ini akan mempengaruhi perilaku manusia. Dan menurut Paul Eckman, ada 6 emosi dasar:

  1. Marah (anger)
  2. Takut (fear)
  3. Sedih (sadness)
  4. Jijik (disgust)
  5. Bahagia (happines)
  6. Terkejut (surprise)

Nah, sebelum mengkomunikasikan ke pasangan, kita harus benar-benar paham dulu nih, apa sebenarnya yang kita rasakan. Harus ada label dulu. Dan katanya, melabeli perasaan yang kita rasakan merupakan salah satu tanda kecerdasan intrapersonal *ehm.

  • Menerima perbedaan pria dan wanita

Balik lagi, bahwa memang udah dari sononya, laki-laki dan perempuan itu berbeda. Termasuk dalam hal menghadapi masalah yang ada.

Suami: menarik diri dari lingkungannya, diam dulu dan fokus mencari solusi.

Istri: Perlu bicara, hingga dia akan mencari orang untuk membantu mendengarkan masalahnya.

Misal nih, suami lagi ada masalah kerjaan di kantor. Sampai rumah dia diem aja. asik dengan laptopnya. Kita sebagai istrinya langsung curigation. Ada apa nih. Dia kenapa ya. Kok diem aja. Kenapa nggak mau cerita. Aku emang nggak dianggep sebagai istri.

Kemudian drama sendiri.

Baca: Cemburu

Padahal itulah pola pikir suami dalam menghadapi masalah atau tekaanan.

Nah, saat kita memaksakan bahwa pola pikir suami harus sama dengan istri dalam menghadapi masalah, maka itulah akar dari masalah yang sebenarnya. Ya karena emang beda.

Saat ada masalah, pria akan merasa lebih baik dengan memecahkan masalahnya, sementara wanita akan lebih baik dengan membicarakan persoalannya. Tidak mau mengerti dan tidak mau menerima perbedaan inilah yang dapat menciptakan konflik yang tidak perlu.

  • 6 hal yang diperlukan suami

Seorang istri harus mengerti betul apa sebenarnya yang diperlukan oleh suami, yaitu:

  1. Kepercayaan. Bagaimana seorang istri harus menaruh kepercayaan penuh kepada suaminya, bahwa dia mampu mengatasi masalah. Kadang-kadang istri kurang sabar, ingin segera membicarakan, ingin segera cari solusi, padahal suami perlu waktu untuk itu. In case ada juga istri yang mungkin punya trauma masa lalu atau dari pola asuh yang kurang ideal, misal punya ayah yang sering menyakiti ibunya. Maka Ia butuh effort lebih untuk belajar dan berlatih mempercayai suaminya.
  2. Penerimaan. Bahwa suami kita adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan. Setiap istri pasti pengen lah suaminya berubah menjadi lebih baik. Tapi harus berawal dari penerimaan dulu, bahwa oke, suamiku memang begini dan begitu. Baru kemudian mencoba mengubahnya dengan cara-cara yang baik dan perlahan-lahan.
  3. Penghargaan. Menghargai segala jerih payah suami, menghargai apa yang sudah mereka lakukan. Mereka butuh diapresasi.
  4. Kekaguman
  5. Pengakuan
  6. Dukungan

Seorang istri biasanya ingin segera membicarakan sebuah permasalah yang mereka hadapi. Sebaliknya seorang suami lebih banyak menarik diri, menyendiri karena kadang dia merasa terdesak, gusar dan tertekan akan rentetan pertanyaan dari istri. Huhu, iya banget.

Sebagai istri, kita harus paham bahwa baginya, itu adalah sebuah kebutuhan. Jadi biarkan dia sesekali menyendiri di dalam guanya. Entah bermain dengan temannya, entah asyik dengan gamenya atau hal lain. Beri dia kesempatan sesaat menarik diri untuk kemudian kembali lagi kepada kita.

Yang Harus Menjadi Catatan:

  1. Jangan menghalangi kebutuhan suami untuk menarik diri.
  2. Saat kita ingin memberi saran, juga musti hati-hati apakah timingnya pas. Karena laki-laki ingin merasa kompeten dan mampu. Jadi jangan buru2 kasih solusi ya gengs.
  3. Jangan terburu-buru menanyakan apa perasaaannya.
  4. Jangan duduk terlalu dekat dengan ‘guanya’. Biarkan beberapa saat dia disana. Jangan suka menyindir, mengajak atau mengganggu. Biarkan dulu.
  5. Jangan khawatir dan terlalu risau dengan kondisinya. Katakan hal-hal yang mendukungnya, misal aku percaya kok kamu pasti bisa, alih2 malah bilang, duh kamu bisa nggak ya mengatasi masalah ini.
  6. Jangan berburuk sangka bahwa saat suami menarik diri, itu tandanya bahwa dia udah nggak sayang lagi sama kita.
  7. Kadang sebagai istri kita menganggap bahwa cinta=bersama-sama. Jadi pas dia lagi pengen sendiri, kita ngintilin aja kemana-mana. Padahal, setelah momen itu dia akan merindukan kita. Dia akan mencari kita dan kembali ke pelukan kita. Jadi yang perlu kita lakukan adalah menunggu. Biasanya nggak akan lama kok :).
  8. Yang paling repot adalah saat suami kembali kepada kita, eeeh, kitanya malah ngambek. “Kamu kenapa sih dari tadi nyuekin aku? Udah nggak sayang ya sama aku?”. Duh, berabe deh.

Jadi dinamika dalam berumah tangga memang begitu. Ada kalanya jarak perlu untuk menumbuhkan rindu. Jadi jangan buru-buru menuntut suami untuk cepat berbicara tetang apa yang dia rasakan.

Sabar menunggu, sabar melihat dinamika yang sedang terjadi.

Kuncinya adalah pandai-pandai menyenangkan suami, sehingga misalnya kalau kita ada salah, nggak cepet menyulut pertengkaran. Kalau udah berantem pasti nggak enak kan ya. Makin lama selesainya itu masalah.

Cara Menyenangkan suami.

  1. ‘Hubungan’ suami istri yang tuntas dan menyenangkan.
  2. Beri kesempatan suami untuk menarik diri.
  3. Selama keputusannya masih oke, tahan diri untuk memberikan saran yang lain. Dengarkan dulu, tahan dulu. Nah, saat mereka kembali kepada kita, bergembiralah, terima dengan baik dan beri pelukan paling hangat. Jangan malah dibahas lagi. “Kenapa sih tadi kamu cuek banget sama aku?”. Jangan, udah peluk aja yang kenceng.
  4. Minta dukungan tanpa menuntut.
  5. Jika suami beli barang, nikmati bersama. Jangan dikritik, jangan disalahkan. Secara umum, mereka menunjukkan eksistensi diri dalam bentuk benda. Meski menurut kita barang yang dia beli nggak banget, tahan diri untuk nggak ngritik. Duh, saya inget nih suami pernah beli tas bahu. Warna kesukannya, biru. Tapi birunya menurut saya nggak banget. Terlalu ngejreng. Langsung deh saya merepet bilang, “Dih, warnanya gini amat. Aturan biru netral aja. Kenapa sih belinya nggak ngajak-ngajak? Kan aku bisa pilihin yang lebih bagus”. Huhuuuu…maafkan aku suamikuuu T_T
  6. Jangan pernah katakan saat dia melakukan kesalahan, “Kan aku sudah bilang”. Percaya deh, itu amat sangat mengganggu dan bikin nggak nyaman.
  7. Selalu minta pendapat, selalu minta ijin. Meski mungkin kita bisa sendiri, tapi hargai suami dengan selalu minta pendapatnya.
  8. Jangan maksa kalau minta sesuatu. Kalau dia mampu, pasti dipenuhi kok. Jangna suka mendesak dia dengan bilang, “Kamu mah nggak sayang aku lagi. Minta beliin tas baru aja nggak boleh”. Dududu~
  9. Hargai saat dia bercanda, meski menurut kita itu garing banget. Bergembiralah bersamanya.

Baca: Cantik di Mata Suami

5 TIPS MENGKOMUNIKASIKAN EMOSI NEGATIF

tips mengkomunikasikan emosi negatif

1. Berlatih untuk bersikap proaktif bukan reaktif.

Proaktif itu ada waktu jeda. Jadi nggak langsung bereaksi terhadap stimulus yang ada. Kita mikir dulu apa yang akan terjadi kalau kita langsung marah, langsung ngambek dan langsung nuduh yang enggak-enggak.

2. Jangan suka membantah.

Fitrah suami adalah pemimpin yang ingin lebih dari yang dipimpin. Jadi jika mereka merasa dihargai, maka proses komunikasi akan lebih mudah.

Agar kita bisa menunda, pikir dulu apa respon yg tepat. Jeda antara stimulus dan respon, itulah cermin kedewasaan kita.

Misal suami pulang kerja capek, macet, bukanna menyambut dengan senyum malah kita langsung ngeluh capek, anak-anak rewel, dll. Maksud kita sih meminta dukungan, tapi yang ditangkap suami adalah dia dianggap gagal sebagai suami yang baik.

3. Teknik komunikasi berupa I massage.

Rumus: saya + merasa+ apa yang dirasakan.

Misal: Aku ngerasa khawatir banget kalau kamu kayak tadi. Pulang telat tapi nggak ngabarin. Kan aku jadi takut terjadi apa-apa.

Gitu. Jadi jangan cemberut dan nangisnya apa yang digedein ya buibuuu :v

4. Jangan menghakimi

“Kamu kok pulang telat nggak ngabarin sih? Aku nggak dianggap istri lagi ya? Kamu udah nggak cinta lagi ya?”

5. Katakan dengan singkat jelas dan tetap hormat dan santun.

Saat kita berbuat baik, maka yang datang kepada kita juga hal yang baik. Begitu juga kepada suami. Nggak ada ruginya sama sekali berbicara santun, taat dan hormat pada suami.

Jika sudah demikian, kebutuhan kita untuk didengarkan akan terpenuhi karena kita dan suami memiliki relasi yang baik.

By the way, ada yang kepikiran nggak, kenapa sih kita yang belajar? Kenapa kok kesannya istri yang bersusah payah memahami trik berkomunikasi yang baik dengan suami?

Karena fitrahnya kitalah yang lebih senang berbicara. Betul?

Jika akhirnya nanti pola yang terbentuk sudah bagus, maka suami akan cenderung memuliakan kita, menyayangi kita dengan sayang yang bertambah-tambah. Uhuy.

Meski balik lagi ya, prosesnya nggak akan sebentar. Bertahun-tahun. Tapi nggak terlalu lama juga ya. Artinya kalau di atas 5 tahun kok masih belum nemu polanya, bisa jadi ada yang perlu dievaluasi ada apa dengan pernikahannya dan mungkin perlu bantuan pihak ketiga.

Yang menjadi catatan lagi, hal yang sudah kita bahas ini berlaku bagi rumah tangga dengan keadaan normal. Artinya tidak ada hal-hal yang memang sudah menjadi masalah dari awalnya. Misalnya saja rumah tangga dengan suami yang temperamen dan mudah melakukan kekerasan pada istri, tentu tips-tips tadi tidak akan bekerja dengan baik, ataupun membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada rumah tangga yang lainnya.

Kembali lagi bahwa rumah tangga, keluarga, adalah medan ujian yang Allah berikan untuk kita. Setiap hal yang terjadi di dalamnya bisa menjadi ladang pahala maupun ladang dosa. Tergantung bagaimana niat dan amal-amal kita di sana.

Semoga kita semua dimampukan untuk membina rumah tangga yang bahagia ya, yang selalu berjuang bersama, menghebat bersama untuk meraih ridhoNya dan kelak bisa bersama pula memasuki jannahNya. Allahumma Amin.

Penuh cinta,

pinky

77 Comments

  1. Cara menyenangkan suami, poin no 2 blm paham mba

    1. Rotun DF

      Itu Mba, pola perilaku laki-laki yang cenderung menarik diri saat ada masalah. Mereka butuh waktu untuk sendiri dulu dalam mencari solusi πŸ™‚

  2. Hallo Mbak, aku juga belajar terus menyampaikan apa yang aku rasa kepada suami.

    Makasih ya sharingnya, emang kalau cuma nangis, masalah gak selesai. Mana suami tahu kan?

    1. Iya Mba, bener. Aku masih belajar terus nih, kadang masih ngerasa berat buat ngomong. Kalau lagi ngambek enaknya diam seribu bahasa, hihi.

  3. Suamiku kl aku ngambek langsung ngeh, lah masalahnya pasti itu2 ajah sih,,, hehe

    1. Aseek <3
      Eh, apa masalahnya? Pihak ketiga ya, wkwkkwk.

  4. Posting dong di grup tulisannya yang maha keren ini ^.^

    1. Masya Allah, Bun Cheche. Mimpi apa aku dikomenin dirimuuu. Jazakillah khayr yaaa :*
      Aduh malu deh, jarang2 nongol di grup mosok tiba2 share postingan xD.

  5. Suka bgt… Makasih pencerahannya mba… Saya msh hrs bnyk belajar soal komunikasi dgn suami ini…

    1. Alhamdulillah, sama-sama Teteh :*
      Sama Teh, aku juga masih harus banyaaak belajar πŸ™‚

  6. Komunikasi penting dalam pernikahan ya mba πŸ˜‰

  7. saya kalo ngambek langsung ketahuan Mba, soalnya saya langsung ngomong sama suami kalolagi ngambek, hehe πŸ™‚

    1. Wah, Mba Ira kereeen. Aku masih belajar ni Mba biar nggak terlalu reaktif πŸ™‚

  8. wah aku baru tau ada 6 jenis emosi. Kayaknya gak cuma sama suami, tapi terhadap tim dan inner circle, ini juga perlu ya Mbak. TFS πŸ™‚

    1. Nah iya bener, pada prakteknya bisa ke siapa aja ya Mba. Belajar menyampaikan apa yang kita rasakan.

  9. Wah tipsnya keren, jadi tahu kapan sat tepat kita mengatakan kemauan kita pada suami, begitu pula sebaliknya
    TFS mbak πŸ™‚

    1. Sama-sama Mba April^^

  10. Sampai sekarang dan seterusnya aku masih banyak belajar mbak, belajar berkomunikasi dengan baik saat negara api menyerang, hihihi. Cuma ada satu prinsip kami, kalau marah jangan lama lama Allah nggak ridho, malaikat nyatet nanti ya. πŸ˜€

    1. Nah iya, betoel. Lagi apa enaknya marah lama-lama. Yang nggak enak dan nyesek juga kita sendiri. Kasian kan hatinya *pukpuk hati* πŸ˜€

  11. Kalau saya sih allhamdulillah gak pernah bilang, “kan aku sudah bilang.” Gak pernah. Tapi bilangnya gini, “ladalaaa…. wis tak kandakan ra percoyo sih mas…mas…”

    * Kemudian si mamase manjat ke pohon kelapa *
    * eh gajadi dia turun lagi *
    * etapi ga ada pohon kelapa *
    * gajadi deh *

    #kabur

    1. Ya Allah Ipeeeehh. Paan sih, wkwkwk.
      Ipeh mah kan bijak bestari, perkiraanku sih nggak pernah menghakimi apalagi ngambek. Bener nggak? :p

  12. Berumahtangga ternyata gak mudah ya, Mbak. Manggut2 aja deh baca tipsnya

    Btw, ada beberapa typo

    1. Sama sekali nggak mudah, Ji. Karena goalnya juga gak main-main πŸ˜‰
      Iyaaa,udah tak benerin. Makasih ya udah dikoreksi. Teliti banget den kamyu :*

  13. Nyak, pacaran pun begitu. Jadi memang saya selalu kasihtau apa yg saya gak suka, dan bagaimana mestinya saya diperlakukan. Karena udah capek main kode-kodean yang ujung2nya selalu gak akan bikin cowo peka yg ada bikin kita gondok!

    1. Hahaha, bener banget Mon.
      Asli deh nggak dimengerti itu emang bikin gondok bin dongkol. Apalagi kalau itu kita yang bikin sendiri. Alias…salah sendiri nggak mau ngomong.
      Udah nggak jaman yes main kode-kodean πŸ˜€

  14. Lengkap banget ulasannya. Tapi kuncinya memang di komunikasi. Keren deh tulisannya.

  15. Aku juga termasuk yg susyah mengkomunikasikan perasaan dan emosiku, Nyak. Bukan cm emosi negatif aja. Itulah kenapa, aku yg banyak latihan sprt ini drpd suamiku

    1. Ayok belajar bareng, Mba Ri. Aku juga masih susah nih, terutama emosi negatif. Ngambek aja masih yang digedein >,<

  16. Ayu niya

    Susah nyak.. hmm pernah juga baca bukunya ust salim fillah kalo ga salah judulnya indahnya pernikahan *ngubek2* intinya gitu sma yg dipaparin di atas. Tapii.. -krikkrik- syusaah nyak.. Walhasil akhirnya ngambek dan uring2an sendiri hihi.. Butuh lebih banyak waktu lagi buat beljar… Thanks nyaak..

    1. Nggak susah kok, tapi memang nggak gampang (sama aja ini yak xD)
      Kalau diawali dengan niat memperbaiki diri demi kualitas hubungan yang lebih baik, mudah2an dipermudah jalannya^^

  17. terus belajar sih untuk yang ini πŸ™‚

    1. Sama Mba πŸ™‚

  18. Makasih pencerahannya, Nyak!
    Suamiku orangnya pinter psikologi bla3 gitu jadi dia paham cewek itu gimana. Lebih gampang lah kalo ngambek ke dia πŸ˜€

    1. Sama-sama Mba.
      Wah, asik banget dong ya, suaminya udah paham ilmu memahami wanita, hihi.

      Jadi gimana, sering ngambek dong buat ngetes? *eh :p

  19. Komunikasi memang hal penting ya dalam rumah tangga

  20. Aku nggak pernah ngambek. Rugiiiiii….
    .
    Wong laki nggak ngerti. (:P)
    .
    To the point aja.

    “Yah, bagi duit.” Seketika hilanglah hasrat ngambek <— bukan jenis komunikasi efektif,
    *don't try this to your hubby. Eh, try aja tapi sesekali.*

    1. btw, ini berapa kata? Luar binasa.

      1. Nggak ngitung Mba. 2000 lebih sih pastinya xD

    2. Wahahaha, mantaaap Mba Lidha mah. Tau betul bahwasanya ngambek memang tiada guna.
      Mending minta duit yak, uang melayang hatipun senang :D.

      Coba aaaahh…

  21. penting banget nyak…
    apalagi ini suami orang yg hidup sehari2 ama kitaa

    (kita…)

    1. Iya Muut, betoel.

      Btw suaminya lagi ngapain Mut? Nyari jalan ya?
      Nyari jalan ke hatimu. Eaaak.

  22. Keren Mbk bahasannya, tak jauh beda yang aku dapat acara hari Ahad lalu, komunikasi suami istri emang ada seninya ya

    1. Makasih Mba Naqi^^
      Wah, acara apa tuh Mba, sharing juga dong.

  23. Plit- komplit banget ini. Thanks for sharing, Mbak

    1. Sama-samaaa, Alma^^

  24. mbak, ini bisa jadi karya buku lho, berpengalaman banget dan lengkap, komunikasi memang penting apalagi soal emosi negatif :p

    1. Ahahaha, makasih Mba Ev. Aku jadi gimana gitu dibilang berpengalaman. Pengalaman dalam hal ngambek, maksudnya? Wakakak.

  25. mba mau tanya, minta dukungan tanpa menuntut itu seperti apa ya?

    Sebagai istri harus banyak sabar dan tahan, tahan kayaknya. Terus aku suka statement ini : Masalahnya komunikasi, solusinya komunikasi juga. Thank you for sharing mba, noted banget. Ilmu baru buat aku di masa akan datang. πŸ™‚

    1. Halo, Balqis. Makasih udah mampir dan baca ya^^

      Sebenarnya bukan hanya meminta dukungan aja yang nggak boleh menuntut, tapi juga dalam meminta apa saja. Artinya kita boleh minta sesuatu sama suami, tapi jika dia belum bisa memenuhi, maka jangan terus kita ngeyel dan menuntut.
      Misal minta sesuatu, suami nggak ngijinin. Yaudah, kitanya berusaha nurut/taat, jangan maksa2 dan nuntut dia yang harus nurutin kita πŸ™‚

  26. Vety Fakhrudin

    Aku kalo pas lagi bete juga langsung cerita ke suami biar suami tau dan bisa mengoreksi kekuranganku disaat lagi bete…hehehe

    1. Itu yang bener Mba, aku kalau lagi bete susah banget ngomong, kayak ada resletingnya gitu bibirku, wekekek.

  27. nah yang masih susah itu komunikasi yang proaktif bukan reaktif, ya gimana ya.. cewek selalu heboh duluan kalau mau bicara πŸ˜€
    makasih mbak sharingnya πŸ™‚

    1. Hahaha, iyaaaa.
      Sama-sama Mba^^

  28. Nyak.. tulisannya wise sekali. Aku suka sukaaaa.
    Dicatet nyak. Bakal diterapin kalo ntar dah dinikahin sama si abang *Abang mana Ntaan? Nyahahaaa

    1. Makasih Intaaan, ini aku ngresume dari webinar aja, hihi.
      Abaaaang, dicariin Intan niiiihhh *teriak pake toa* :v :v

  29. Mba sepertimya saya selama ini dosanya banyak bgt ke suami suka drama dan terlalu kawatiran huhu
    habis ini mau belajar cara berkomunikasi yg baik πŸ™‚

    1. Akupun Mbaaa, tadinya gitu. Lama-lama capek kebanyakan drama, hahaha.
      Ayo Mba belajar sama-sama πŸ™‚

  30. hehehehe…memang susah-susah ga gampang mengomunikasikan emosi negatif pada suami, banyak ga ngertinya wkwkwkw

    1. *Kemudian nyanyik. “Karena wanitaaa ingin dimengerti…” Eaaaa xD

  31. saya sering ngambek dan drama nih mak~ huaaaa
    tapi ujung-ujungnya sih saya juga yang minta maaf karena malu sama umur wakakaka.

    1. Dan malu sama anak ya. Wakakaka.

  32. Makin dibaca…makin banyak tau “eh….ini niih…gue banget”.

    Semoga masalah komunikasi ga tersendat bagaikan sinyal henpon.

    Dan ini yg paling penting.
    Semoga bertemu kembali di jannahNya kelak.
    Aamiin.

    1. Apalagi aku Leeen. Pas ngikut webinarnya pengen tutup muka mulu, maluuuu. Wahahaha.

      Iya, Allahumma Amin πŸ™‚

  33. Aku nih masih belum bisa mengkomunikasikan emosi negatif ke suami, alhasil masih menang-menangan tapi njelalah kok ya suami malah yang nggak mau lepas, menurutnya suami istri itu harus ke mana-mana berdua, hadeeh.. dan kebetulan saya kurang setuju sama hal itu karena menurut saya sekalipun menikah kita perlu menerapkan kemandirian pada diri kita masing-masing.

    1. Aw aw, suaminya so sweet banget ya Mba Rani, hihi.
      Dinikmatin aja Mba, mayan kemnana2 jadi ada bodyguard *eh xD. Tapi kalau saya setuju sih, bahwa setelah menikahpun kita tetep butuh waktu untuk diri sendiri. Bener-bener me time gitu ya Mba.
      Coba aja diomongin pelan2 ke suami, mudah2an bisa mengerti πŸ˜‰

  34. Hi mba Rotun tips yang manfaat bagi perempuan…memang pria itu dari mars…hobinya ke gua hihihi. Karena dulu banyak sahabat dan kawan laki-laki-sedikit banyak tahu teori ini banyak benernya, terutama soal ehm gengsi. Kalau sampai dikalahin cewe, sehari itu mood mereka jelek terus hahaha, tapi memang beda kl sudah jadi istri kita dan pasangan pengennya jadi serba “lebih”… lebih hebat, lebih dihargai, lebih dst. great post mba…

    1. Wahaha, guanya banyak lagi ya xD. Nah, itu tuh. Gengsi. Ckckck, menghadapinya setengah mati pas awal2 nikah dulu *__*
      Makasih udah mampir ya Mba^^

  35. Saya malah paling sebel kalau ngajak ngobrol tapi ditinggal tidur..dikira kita lagi nina bobo kali yaa πŸ˜€ πŸ˜€

    1. Ahahahaa, I feel you Mbaaa xD

  36. Paling sebel pas diajak ngomong, pak suami sambil pegang gadget. Pas dikasih tahu (dengan lemah lembut) masih tidak terima. Sakitnya tuh di sini. Hiiks…
    Lalu, aku langsung melangkah pergi. Biasanya doi langsung ngerti dan menyusul sambil bilang “eh… gimana tadi, Bun?”
    Sayang minatku biasanya sudah terbang lalu aku jawab: “gak penting kog, lupakan!

    Hahaha… kali ini giliran doi yang bengong. Hohoho…
    Now we are even! :).

    1. Hihi..pukpuk Mba Ros πŸ™‚
      Sebelum bicara coba minta gadgetnya di taruh dulu Mba. Kalau udah terlajur emang suseeeh negornya *pengalaman

      HAHAHAHAHAHA, Epik banget Mba xD

  37. Betul sekali, Mbak, betapa kemampuan mengkomunikasikan ini sangat penting. Sebab, seorang suami pernah curhat, “Kalo istri tidak cerita dengan terus terang, emang saya ini dukun apa, yang mesti tahu segala perasaannya tanpa dia ngomong?” Hehehe….

  38. Cumak maok bilang iiiii kok sama kok sama kok samaaaaak ahahhaha
    Aku kadang masih kolokan mb, tapi makin hari makin dididik biar dewasa secara perlahan2, tadinya klo pas lagi ngambek ato sebel sama sesuatu ujarku takcurhat, e bukane diayem ayem, malah akunya dinasehatin supaya lebih kuat n bermental baja , jangan apa apa mlempem wkwkwkkwk

  39. saya izin nyimak aja ni πŸ™‚

Leave a Reply

Required fields are marked*