Marriage

#MondayMarriage: Memilih Pasangan Hidup

kriteria-memilih-pasangan-hidup

Beli cabe aja milih-milih, masa nyari suami yang buat teman seumur hidup nggak boleh milih-milih?

Saya membaca jawaban dari seorang lajang, saat ada yang nyinyirin dia yang belum menikah. Yang paling sering terjadi, biasanya para lajang ini dijudge kalau mereka terlalu pemilih. Hingga keluarlah jawaban seperti di atas. Kalian setuju nggak?

Kalau saya sih yes.

Meski kemudian cara memilihnya bisa sangat subyektif karena selera orang masing-masing kan berbeda ya. Misal ada yang menetapkan kriteria mendetail, harus ganteng mirip Song Joong Ki, mapan dengan kriteria punya gaji sekian, atau memiliki hobi yang sama biar asik.

Ada juga yang kriterianya cukup simpel. Yang penting sholeh, misalnya. Pun lagi-lagi sholeh ini juga sangat luaas cakupannya. Apa hanya cukup rajin sholat, atau harus seorang hafidz yag hafal 30 juz, misalnya. See? Kriteria ini bisa sangat amat kompleks kok jatohnya.

Saya termasuk yang menetapkan kriteria sederhana dalam hal memilih pasangan. Pernah merasa minder karena merasa saya ini hanya wanita yang sangat biasa. Wajah biasa, pendidikan standar, ekonomi bawah, jadi sempet mikir ada yang mau nikah sama saya aja udah syukur deh. Hahaha, desperado amat gue dulu yak xD.

Baca: Rotun si Anak Dusun

Eh eh by the waaay, sebelum saya lanjutin cerita tentang kriteria memilih pasangan, saya mau woro-woro kalau mulai Senin ini, di rubrik #MondayMarriage saya colab sama ‘adek blogger ketemu gede’ nun jauh dari Aceh sana. Sri Luhur Syastari aka Ayi. Blogger di balik cutdekayi.com. Sebenernya rencana mah udah lamaaa, tapi karena Ayi kemarin abis lahiran jadi baru mulai sekarang deh.

Jadi baca juga blogpost Ayi:

TENTANG MEMILIH PASANGAN HIDUP

Okeeeh, lanjut.

Jadi saya yang tadinya pasrah bahwa jodoh di tangan Tuhan, kemudian tahu dan sadar bahwa jodoh bisa juga diupayakan. Iya, istilahnya menjemput jodoh. Caranya? Meminta kepada sang pemilik jodoh. Gitu kan? Meminta agar kita diberikan jodoh yang terbaik, dengan cara yang baik, dan di waktu yang paling baik. Semuanya baik menurut Allah tentu saja.

Maka kemudian saya mulai membaca buku tentang pernikahan, untuk mulai belajar bagaimana proses sebelum dan sesudahnya serta segala pernak-pernik di dalam pernikahan. Sebelumnya saya bahkan saya melahap banyak bacaan tentang pendidikan anak, hahaha. Etapi karena memang saya bekerja di bidang itu, menjadi guru TK.

Jadi ini dia beberapa kriteria saya dalam memilih pasangan hidup.

Sholeh atau paham agama.

Yang kemudian syarat spesifiknya adalah dia harus ngaji atau ikut taklim. Ya, saya yang memang sudah ikut taklim semenjak SMA, meletakkan syarat ini paling pertama. Kenapa? Agar saya dan suami saya nanti satu koridor, satu faham dan satu visi dalam membangun keluarga. Jika kami sama-sama tarbiyah, maka penyesuaian akan lebih mudah, karena selama ini kami sudah ada di track yang sama. Gitu lah gampangnya.

Dan seseorang yang ikut taklim, menurut saya adalah orang yang punya komitmen untuk terus belajar mengenal agamanya, belajar taat pada Allah dan RasulNya. Dijamin pasti sholeh? Ya nggak juga. Tapi setidaknya saat kami bergabung di sebuah jamaah taklim, kami akan terus berproses bersama menuju ke sana, dan akan ada orang-orang yang selalu mengingatkan di jalan kebaikan.

Lalu gimana caranya saya mencari calon suami seperti itu? Well, lewat perantara. Pernah mendengar atau malah familiar sama model pernikahan yang dijodohkan lewat ta’aruf? Iya, saya gitu juga proses nikahnya, hehehe. Pun saya udah sounding jauh-jauh hari ke orang tua, kalau saya itu nanti nikahnya dicariin sama guru ngaji saya. Murabbi, kami menyebutnya. Dan orang tua memang kenal baik sama beliau.

Jadi orang tua sama sekali nggak kaget pas suatu kali saya nelfon, “Pak, Bu, ada yang mau melamar saya”

Jawaban mereka, “Oh, Bu Anu udah nemu calon buat kamu, Nduk? Alhamdulillah”

Hahahaha. As simple as that.

Proses bagaimana saya akhirnya menikah nanti saya ceritain di another blogpost aja deh. Kepanjangan nanti kalau dijembrengin di sini.

Sekufu

Sekufu itu maksudnya sederajat. Baik dalam kedudukan, agama, nasab, harta maupun pendidikan. Artinya saya juga berkaca. Kualitas saya seperti apa, jadi nggak mungkin juga saya menetapkan kriteria terlalu tinggi untuk calon suami saya. Sebenarnya sekufu ini juga menjadi salah satu pegangan murabbi dalam mencarikan jodoh bagi para binaannya. Sesuatu yang terlalu jauh, tentu akan sulit nyambungnya. Pendidikan laki-laki S2 lalu perempuan SMA? Tentu akan sulit menyamakan ritme dan komunikasi dalam berumah tangga nanti. Atau misalnya saya dijodohkan dengan putra betawi yang tanahnya ngambrak di mana-mana, kontrakan puluhan pintu sementara saya hanya gadis desa yang sawahpun tak punya. Halah.

Ada kisah nyata di mana sang istri dari keluarga berada dan suami dari keluarga biasa saja. Saat ada konflik, kata-kata ‘wajib’ yang muncul dari suami adalah, “Iya, aku emang laki-laki miskin, nggak kaya kamu yang anak orang kaya. Marahin aja terus, salahin aja terus”. So sad πŸ™

Ya, karena kisah pernikahan nggak semanis yang di FTV-FTV itu, gengs :D.

Baca: Istri Sensi vs Suami Cuek

Mempunyai pasangan sekufu juga memudahkan kita untuk bergaul dengan keluarganya. Tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok hingga nambah-nambahin masalah dalam pernikahan. Bukan, bukan berarti bebas masalah. Tapi sangat bisa meminimalisir.

Memiliki kemampuan memberi nafkah

Nggak harus punya gaji sekian, apalagi punya kendaraan atau … rumah. Tapi gimana calon suami saya memang dinilai mampu memberi nafkah untuk istri dan anaknya saat kami sudah menikah nanti. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban bagi suami. Jadi seperti yang pernah saya baca, mencari calon suami nggak harus yang mapan, tapi lihatlah apa dia punya potensi untuk mapan.

Dan dalam perjalanannya mapan ini juga banyak faktor kan ya, termasuk yang paling penting adalah dukungan dan doa dari sang istri. Ehm.

Kalau murabbi saya bilangnya mah nggak harus bekerja tetap, tapi bagaimana Ia tetap bekerja. Nggak harus punya penghasilan tetap,Β tapi bagaimana Ia tetap berpenghasilan. Gitu :D.

Kriteria lain: Nggak ngerokok, suku Jawa

Saya kenyang banget sama rokok. Bapak itu perokok berat, yang rokoknya nglinting sendiri itu lho, pake kertas rokok, kasih irisan tembakau kering dan kawan-kawannya terus dilinting sendiri. Baunya aduhai, nyengat banget dan bikin gatel tenggorokan. Kakak saya juga perokok akut, yang borooossss banget karena ngerokoknya udah kaya sepur kalau Ibu saya bilang. Enggak ada berhentinya, ngebul terus πŸ™

Jadi saya mau banget suami saya nanti bukan perokok. Tapi kalau syarat pertama terpenuhi, insyaAllah dia pasti bukan perokok sih :).

Kalau suku Jawa, enggg…request orang tua. Kebanyakan gitu kayaknya ya. Pengen yang sesuku. Padahal saya pernah lho pengen dapet jodoh orang Betawi. Alasannya? Lama tinggal di lingkungan Betawi yang biasanya anaknya banyak terus kalau udah pada nikah tinggalnya segerombolan gitu jadi rameee. Mungkin karena saya dibesarkan di kampung yang kebanyakan anaknya mencar kemana-mana, jadi perantau. Jadi lihat keluarga Betawi yang ngumpul seru gitu jadi pengen, hehehe.

Mmm, apalagi ya, kayaknya kriteria utamanya itu sih. Jujur untuk fisik nggak saya masukin ke kriteria. Sadar dirilah, hihi.

*****

Desember nanti insya Allah akan memasuki tahun ke tujuh bareng dia. Suami yang kriterianya saya minta di doa-doa malam saya. Asek. Karena satu hal lagi yang saya ingat, bahwa jodoh itu tidak akan tertukar. Namun, kita juga bisa berdoa dan berusaha untuk mendapatkan jodoh idaman kita. Bukan siapa dia, tapi bagaimana dia.

Dan usaha yang saya lakukan dulu adalah terus memantaskan diri. Karena saya percaya janji Allah, bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Dan berlaku sebaliknya.

Kalau kalian, punya kriteria memilih pasangan hidup yang seperti apa? AtauΒ bagi kalian yang sudah menikah, kriteria apa yang akhirnya memantapkan hati untuk menerima pinangan darinya? Share yuuuk^^

______

Palopo, di Senin pagi yang gerimis.

Nyak Rotun.

32 Comments

  1. Amankan pertamax gan ahahaah
    Yang bagian suku jawa samaaaak mb rotun, mungkin aku emang nyamannya dg yang sedaerah, uda gitu pilih yng ngemong karena aku mah masih childish perlu banget dibimbing dg telaten wakkaka

    Seagama, jelas…ga pake ditawar lagi klo aku mah

    Sama juga yang bagian no perokok, bapakku juga dulu ngrokok tapi sekarang dah direm2 sih sama ibu wakaka, tapi aku dapetnya alhamdulilah yang ga ngrokok, ngopipun engga…walo lingkungan kerja doi sangat bertolak belakang pada ngudud semua, alhamdulilah ga terpengaruh

    Wow met 7 tahun pernikahan mb, tetep jadi keluarga inspirasi yak, semoga selalu dilimpahkeun keberkahan dan kebahagiaan

    1. Wahahaha, mantap Gan. Sundul!
      Ih kita banyak samanya ya, Nit. Amin, makasih doanya. Doa yang sama untukmuuu. Mwah :*

  2. Jodohku hari ini adalah apa yg kupikirkan di masa lampau, bahkan kebanyakan cuma dipikir kurang didoain πŸ™
    Dulu mikirnya pengen punya suami yg gak perokok, yg doyan ngaji (nuntut ilmu agama), pintar, bisa nafkahin, mandiri, bertanggungjawab, kalau bisa jgn satu kota.
    Dan yes, dapat semua. Dapatnya malah luar pulau.

    1. Masya Allah …
      Allah Maha Baik ya Mba. Pengabul do’a hambaNya meski hanya lintasan pikiran πŸ™‚

  3. Semoga kita dan pasangan kita selalu diberkahi jodoh yg panjang dan sakinah mawaddah warohmah ya mba. Aaamiinn

  4. Sama Mba, saya juga dari SMA pengen punya Suami yang good looking, cerdas, bisa nyari nafkah yang halal, bertanggung jawab. Alhamdulillah terwujud^^ tfs ya

    1. Alhamdulillah. Nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan ya Mba? Semoga makin menambah rasa syukur kita yaaa πŸ™‚

  5. Aku pernah ngelist kriteria pendamping hidup di blog. Mayan banyak lah lebih dari 10 poin. Haha

    Salah satu nya (dan saya nulisnya pake huruf kapital) smoking is a big no-no.

    Ealaaaah malah dpt jodoh perokok. Tapi kriteria yang lain 90% terkabul

    Saya syukuri saja Mak. Saya percaya Allah ngasih yang terbaik. Apalagi saya happy2 aja. Alhamdulillah

    1. Masaaa … mana mana linknya? πŸ˜€
      Betul Mba Shin. Fokus ke 90%nya saja ya. Alhamdulillah.

  6. Kalau saya sendiri S-2 dan suami tamatan SMA. Tetap kami bisa berjalan beriringan meskipun setiap rumah tangga pasti punya kerikil.

    Padahal saya dulu juga inginnya suami yang S-2 tp ternyata tidak semua juga yang predikat S-2 bisa dewasa dalam hal menjadi pemimpin rumah tangga.

    1. Masya Allah^^
      Perlu belajar banyak dari kalian nih, Mbaaa.
      Iya betul Mba, nggak ada yang bisa menjadi jaminan ya. Yakin saja kalau Allah memang memberikan jodoh yang terbaik untuk kita πŸ™‚

  7. Apa yak Mbak dulu kriterianya? Yang pertama sholeh, kedua gigih. Itu aja Mbak kayaknya. Hehe. Simple bgt yak.

    1. Yang ketiga yang penting idup kali, Mba. HAHAHAHA *canda :p

  8. Aku juga pas milih suami punya kriteria gak ngerokok, tapi soal suku apa aja boleh, krn pengen nambah saduara dr sabang mpe merauke, alhamdulillah dptnya org Dayak hehehe

    1. Waah, baru tau kalau Bapaknya Maxi orang Dayak. Pasti seru ya kalau cerita tentang kampung halaman masing-masing πŸ˜€

  9. Dulu aku memutuskan menikah sama suami karena udah merasa udah cocok aja dan dia mau menerima kondisi aku yang memang sudah aku katakan sebelum menikah. Alhamdulillah, ibuku cocok sama dia karena masuk kriterianya. Kriteria ibuku mah lumayan banyak, dari yang Suku Jawa sampai sama-sama S1.

    1. Jadi yang nyusun kriteria malah ibu ya Mba, hihi. Demi mendapatkan suami yang paling baik untuk putrinya.
      Smeoga langgeng dan samawa selalu ya Mba Ratna^^

  10. kudu diibikin spesifik lagi doanya.. doa yg kmrn kan ga terkabul.. hiks..
    oke nyak,mantap tulisannya.

    1. Betul, Mut. Katanya doa yang makin spesifik makin bagus. Asal jangan doa yang maksa. Eaaaa..:v

  11. aku juga pasang kriteria sederhana dan sangat standar mbak. sempet minder juga, apa sih lebihnya aku sampe pasang kriteria macem-macem. hehe

    1. Toss Mba, hehe. Tapi toh Allah tetap kirimkan jodoh terbaik untuk kita ya Mba, alhamdulillah.

  12. Uci

    Nyak, button up nya cantikkk
    Aku udah pernah juga curhat ttg ini di blog hihi.. alhamdulillah yaa nyak nggak ngerokok juga πŸ™‚
    Hampir semua doa kriteria jodoh dikabulkan hehe soalnya pas doa beneran aku sebutin kriterianya tapi nggak yg muluk2

    1. Oya? Mau juga dong baca πŸ˜‰
      Alhamdulillah, doa-doa kita diijabah ya Mba, semoga rumah tangga kita selalu samawa. Amin.

  13. Dliyaunn0206

    Setuju banget deh ma mbak Rotun kali ini.
    Aslinya gak pemilih sih kalo emang mau dikata. Kitanya aja yg Request gimana-gimananya Allah, dan ortu juga pasti maunya gitu. Bisa buat belajar untuk yg mau ginian juga, seperti saya ini yang belum dijemput jodoh. Hihihi πŸ˜€ Doain ya mbak..

    1. InsyaAllah, Dek. Dibantu doa ya, semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik. Amiinn^^

  14. Aku dulu yg penting sama2 Islam & udah kerja. Gitu aja. Aku nggak romantis orangnya. Heheee

    1. Ahahaha, akupun nggak ada kriteria romantis, Mbak Lus :p

  15. Halo Mbak Rotun, salam kenal ya. Mungkin mbak belum kenal saya hehehe
    Saya juga dulu mikirnya sama, memilih jodoh nggak mudah, tapi tetaplah harus sederajat, takut njomplang kalau beda jauh hehehe. Semoga pernikahan kita bakal langgeng dan suami sholeh terus ya mb. Amin

    1. Halo Mba Meeeei, makasih udah mampir ya^^
      Ish, aku kenal laaah. Dirimu kan ibu guru yang ngeheits ituh.
      Amin Allahumma Amin untuk doanya ya, Mba πŸ™‚

  16. Soal rokok aku juga ga nahan, Mak. Salah satu kriteriaku kalau punya suami dia ga ngerokok. Aku ga nahan sama asap rokok. Bau iya, sesak juga.

  17. nyak.. masyaAlloh saya keep dan dicetak buat diedarin ke jones πŸ˜€

    sama nyak.. q jg lewat proses taaruf, tapi perantaranya ortu sendiri.

    malah dulu sempet minder karna suami sudah S2, saya masi lulusan SMA. alhmdlah suami terus bimbing saya nyak..

    utk soal agama yg penting soleh dan hanif dah..pastinya juga banyak pertimbangan pribadi.

    dari tulisan nyak, jadi berani buat ngeblog.. masih blm ada postingan siih.. tapi dari tulisan ini pengen bahas ini jugaa

    barokalloh ya nyak buat, semuakalo inspirasinya..
    penjelasannya ga monoton dan garing
    leh ugaa deh

    πŸ™‚

Leave a Reply

Required fields are marked*