Matrikulasi IIP

Program Matrikulasi IIP Batch #2

matrikulasi-iip

Bismillah.

Setuju nggak kalau saya bilang bahwa menjadi istri dan ibu merupakan sebuah proses belajar yang luar biasa? Banyak banget ketrampilan yang mesti kita kuasai untuk bisa menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang hangat, bahagia, dan sukses dengan goalnya masing-masing.

Dan dua-duanya, menjadi istri dan ibu itu nggak ada sekolahnya.

Ah, kata siapa? Mungkin iya nggak ada sekolahnya. Tapi bersyukur kita hidup di jaman sekarang, di mana segala teori tentang pernikahan dan parenting begitu marak. Tinggal kitanya mau mengupgrade diri apa nggak. Yang penting, jangan sampai labil dan terbawa sana sini. Ada teori A ngikut, ada teori B yang ternyata nggak sama dengan teori A kemudian kita galau dan bingung sendiri, hihi.

Terus yang mana dong yang diikutin? Yang paling cocok dan yang paling bisa diterapkan ke keluarga kita. Nggak semua keluarga sama kan? Dan yang paling ngerti kan kita sendiri.

Dan biar nggak galau dan ngikut sana-sini, punya pegangan dan pedoman mau ke mana tujuan sebuah keluarga, itu poin paling penting kalau menurut saya. Ibaratnya, untuk membangun rumah aja kita perlu banget blue print, jadi akan ketahuan hasil akhirnya seperti apa, bahan-bahan yang dibutuhkan apa aja, juga biaya yang harus dikeluarkan.

Itu rumah lho ya. Lalu gimana dengan anak? Masa iya kita sekedar membesarkan mereka: memberi makan, mencukupi kebutuhan, mengantarkannya ke sekolah/pesantren, dan sudah. Begitu saja. Tidak ada tujuan yang ingin di capai, tidak ada target yang jelas. Hanya tergambar dengan amat sangat umum: menjadi anak yang pintar dan sholeh. Pintar dalam hal apa? Sholeh yang seperti apa? Nggg…bingung.

Padahal dalam sebuah pola asuh, dua hal yang harus ada adalah tuntutan dan dukungan. Tuntutan ini lebih kepada harapan sih ya, mau seperti apa anak kita nanti. Dan dukungan tentu saja bagaimana usaha kita untuk mewujudkannya.

Gitu deh.

Saya sendiri sampai sekarang masih dalam tahap menyusun blueprint pengasuhan, iya emang telat banget secara anaknya udah dua T___T. Telat taunya, telat dapet ilmunya.

Yaudahlah lebih baik telat daripada enggak kan? *menghibur diri*

Belajar, yuk!

Al ummu madrasatul ‘ula. Ibu adalah madrasah yang pertama dan utama untuk anak-anaknya, dengan ayah sebagai kepala sekolahnya. Jadiiii kalau mau mendidik anak, ibunya dulu yang harus dididik. Untung bisa menuangkan air ke dalam gelas, tekonya dulu yang harus diisi dengan air. Gitu kan ya?

Dan karena saya sadar sesadar-sadarnya kalau ilmu saya masih seiprit banget buat mendidik anak, yang udah dua ituuu, makanya saya mau banget belajar. Madal hayah, selama hayat masih dikandung badan.

Balik lagi ke jaman sekarang tentang maraknya ilmu dan teori parenting, saya ikut nih salah satunya, yaitu Institut Ibu Profesional (IIP). Ada yang udah tau, atau ada yang baru denger? Bisalah gugling sendiri ya.

Yang menarik tentang IIP ini adalah adanya Program Matrikulasi sebagai ajang bagi seorang ibu dan calon ibu untuk lebih memahami dirinya untuk kemudian belajar menjadi ibu yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Sebenernya saya belum gabung dengan IIP manapun, tapi saya gabung ke salah satu rumah belajarnya yaitu Rumbel Menulis IIP Jakarta. Pas Program Matrikulasi batch #1 saya ketinggalan kereta. Tapi sedikit ngerti karena temen saya sering cerita-cerita. Dan finally, saya bisa ikut daftar dan ketrima di Program Matrikulasi batch #2 ini. Yeaaayyy.

Mau tau lebih lanjut tentang Matrikulasi IIP? Langsung nonton video di bawah ini aja yes, biar saya nggak kebanyakan nulis. Eaaa…

Oiya, karena nantinya program ini berjalan selama 8 minggu, jadi akan saya bikin kategori khusus di blog ini, yaitu Matrikulasi IIP. Biar lebih gampang aja nanti nyarinya.

Yowes, saya mau lanjut ngerjain PR pertama nih.

Cheers,

pinky

[su_youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=efDr2HKKkgQ”]

 

Leave a Reply

Required fields are marked*