Review

Saat Sakit di Perantauan

[SPONSORED POST]

Saat sakit di perantauan

Kalau ditanya siapa yang mau sakit, bisa dipastikan jawabannya nggak ada ya. Iyalah, siapa sih orang yang mau sakit. Setiap orang mengharapkan Ia dan keluarganya selalu sehat dan bahagia. Banyak cara juga ditempuh agar bisa hidup sehat. Makan makanan bergizi, istirahat cukup serta olahraga teratur.

Namun adakalanya diluar kemauan kita, terlepas dari segala ikhtiar yang sudah dilakukan, bisa saja kita tertimpa sakit. Itu merupakan takdir. Ya, tinggal gimana kita menjalani sakit. Inti dari setiap ujian itu katanya adalah hasil akhirnya. Apakah dengan ujian itu kita makin bersabar, atau memenuhi hati dengan keluh dan kesah. Bisa jadi dengan sakit kita bisa banyak merenung, atau seperti yang biasa dikatakan orang-orang: agar kita bisa beristirahat.

Saya sendiri, sampai saat ini sudah pernah opname di rumah sakit sebanyak dua kali. Di luar melahirkan lho ya. Kalau Bapak-Ibu, suami dan anak-anak malah belum pernah sama sekali. Mudah-mudahan terus sehat. Amin. Masuk RS pertama saat kelas 3 SMA. Inget banget pas itu lagi ujian akhir semester. Entah karena kecapekan dan terlalu ngoyo belajar, saya yang tadinya dikira masuk angin biasa ternyata harus dilarikan ke RS karena pingsan di kosan. Saya positif tipes dan harus di rawat. Yang nungguin siapa? Temen kos lah, hahaha. Mereka gantian menjaga saya dikala malam. Kalau pagi mereka sekolah, saya di jaga sama Mba Sri, pembantunya ibu kos.

Kasihaaaann.

Orangtua saya belum tau. Saat itu belum ada telpon atau HP. Ya ada sih di ibu kos, tapi bapak ibu kan nggak punya. Jadinya mereka tau pas saya udah di RS tiga hari. Temen kos saya yang sekampung pulang, dan mengabarkan ke Ibu kalau saya sakit. Besoknya mereka dateng ke RS sambil nangis-nangis :’). Alhamdulillah di hari ke 8 saya sudah diijinkan pulang. Ujian semesternya ikut susulan deh.

Masuk RS yang kedua, lagi-lagi jauh dari orangtua. Bahkan sampai sekarang Bapak Ibu nggak tau, hihi. Sengaja saya nggak cerita ke mereka. Nggak mau mereka khawatir dan kepikiran. Lha wong di perantauan saya nggak ada saudara sama sekali, cuma suami dan anak-anak.

Kejadiannya pertengahan bulan April kemarin. Awalnya sakit biasa, karena telat makan dan kecapekan. Suami pun masih tetep berangkat kerja. Saya di rumah bersama dua balita. Bisa ditebak lah ya, suseeeh istirahat. Baru merem  bentar si Wafa manggil, merem lagi si Ayyas minta susu. Gitu aja terus. Sampe di hari ketiga, saya muntah-muntah hebat. Bolak balik kamar mandi. Lemes luar biasa, sampai nggak kuat bangun. Sampai akhirnya saya tidur, ternyata bangun-bangun saya udah di RS :’).

Sempet kekeuh minta ke dokter agar jangan opname. Mikir nanti anak-anak gimana, siapa yang jaga. Tapi dokternya pun kekeuh nggak ngebolehin saya pulang.

“Kalau di rumah, Ibu nggak mungkin bisa istirahat”, kata beliau.

Akhirnya kami manut. Suami rundingan sama tetangga yang nawarin mau jaga anak-anak selama saya dirawat. Tadinya udah lega, tapi ternyata anak-anaknya nggak ada yang mau :(. Singkatnya, akhirnya kami memilih kamar VIP dengan pertimbangan agar anak-anak bisa tetap bersama saya dan nggak mengganggu pasien lain.

Maka malam itu menginaplah kami sekeluarga di hotel, eh rumah sakit.

sakit di perantauan
What do you think? 😀

Alhamdulillah anak-anak nggak rewel. Suami memboyong mainan ke RS agar anak-anak nggak bosan. Tapi yaa namanya anak-anak. Di hari ketiga mereka mulai merengek minta pulang. Syukurlah dokter mengijinkan saya rawat jalan dengan wejangan dan pesan agar saya rajin kontrol.

Asik banget ya, Nak.
Asik banget ya, Nak.

Dari dua pengalaman di atas, satu yang saya simpulkan: sakit itu nggak enak. Yeee, semua juga tau. Nggak enak di badan, nggak enak juga di kantong. Di kantong? Yes, it’s about money. Makanya banyak yang bilang sehat itu mahal, tapi suka pada nggak nyadar. Nyadarnya pas jatuh sakit, dan harus mengeluarkan banyak uang demi bisa sehat kembali.

Saat sakit jaman SMA dulu, saya inget banget orangtua sampai harus berhutang untuk membayar biaya rumah sakit. Ya, saat itu orangtua yang hanya buruh tani boro- boro mikirin budget untuk kesehatan, bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak aja udah syukur alhamdulillah. Tapi kayaknya sampai sekarang deh, masyarakat di desa saya belum banyak yang sadar untuk memiliki anggaran khusus untuk kesehatan. Padahal itu sangat penting ya. Baru-baru ini Ibu cerita, tetangga sebelah rumah mengeluarkan biaya 35 juta untuk biaya operasi anaknya yang menderita kelainan pada organ pencernaannya. Meskipun pada akhirnya bayi berusia 5 hari itu meninggal. Dana yang susah payah di kumpulkan oleh si Ibu dengan menjadi TKW di Malaysia selama bertahun-tahun, yang niatnya untuk membangun rumah, habis dalam sekejap.

Saya tahu bahwa sesuatu yang sudah terjadi tidak boleh di sesali. Tapi, kita bisa memetik pelajaran dari sana. Kejadian itu menyadarkan kita bahwa dana kesehatan itu sangat penting. Sekali lagi walaupun kita sudah berusaha untuk hidup sehat, but who knows? Iya kan?

Dana khusus untuk kesehatan bisa dalam bentuk tabungan, ataupun bisa berupa asuransi kesehatan. Memang sih, saat ini berbagai program jaminan kesehatan telah digalakkan oleh pemerintah kita, namun seringkali program itu nggak menjangkau masyarakat secara merata dan kadangkala masyarakat menerima pelayanan yang kurang optimal saat berobat dengan program pemerintah. Nah, untuk itulah asuransi kesehatan hadir sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk menjamin kesehatan.

Kesehatan keluarga adalah aset terpenting yang kita miliki. Jiika kita atau salah satu anggota keluarga tiba-tiba jatuh sakit, kan pasti menginginkan perawatan medis yang terbaik – dari dokter ahli terbaik hingga rumah sakit terbaik. Saat masa sulit seperti itu, biaya rumah sakit dan obat-obatan seharusnya tidak menjadi hal yang kita khawatirkan. Udahlah lemes lunglai lagi sakit, masih juga harus mikirin gimana biaya rumah sakit, obat dan semacamnya.

Jika Anda ingin membeli asuransi kesehatan, banyak hal yang perlu dipetimbangkan. Mesti tau profil perusahannya seperti apa, jenis layanannya apa saja, dan banyak atau tidaknya daftar rumah sakit yang menjadi rekanan dari perusahaan asuransi tersebut.

Bagi Anda yang sedang mencari produk asuransi kesehatan yang sesuai, banyak sekali lho perlindungan kesehatan yang tersedia di pasarpolis.com. Kenapa harus pasarpolis.com?  Setidaknya ada 3 hal yang bisa menjadi pertimbangan Anda:

  1. Harga jujur, tidak ada biaya tambahan apapun dari harga produk asuransi yang tertera
  2. Klaim mudah karena ada claim assistance yang siap membantu pengajuan klaim asuransi Anda
  3. Mudah memilih asuransi karena dibantu oleh para ahli yang siap membantu Anda memilih produk asuransi yang terbaik yang Anda butuhkan

pasarpolis.com

Salah satu produk asuransi yang saya tahu yaitu asuransi kesehatan Lippo yang memiliki lebih dari 580 ribu rumah sakit rekanan seluruh Indonesia. Hal ini tentu memudahkan manusia macam saya yang hidup berpindah-pindah, sehingga tidak kesulitan dalam menemukan rumah sakit yang bisa mengklaim asuransi yang saya miliki. Masih banyak juga sih kelebihan lainnya, sehingga pantas rasanya jika asuransi kesehatan Lippo mendapatkan award dari Media Asuransi sebagai Best General Insurance di tahun 2015 lalu.

Nah, gimana, sepakat ya bahwa sehat itu penting, tapi menjaga pola hidup sehat dan menyiapkan budget khusus untuk kesehatan juga tak kalah penting. Setuju?

Salam,

Nyak Rotun

5 Comments

  1. Rotun DF

    Hooh, Dek. Pingsan Mba, pas sadar udah di RS :’)

  2. Dirumah sakit itu paling menyenangkan waktu melahirkan. Selebihnya jangan. Kalau saya sudah dicover asuransi yg dibayar kantor suami. BPJS nggak kepakai krn fasilitasnya lebih enak pakai asuransi kantor suami heheee.

    1. Rotun DF

      Betuul, Maklus. Malah aku kalau di RS abis lahiran pengennya lama2 lho, abisnya enak. Anak dimandiin, makan dianterin, duh..enak lah pokoknya, hahahha

  3. Kalau pengalaman asuransi sih biasanya diawalnya doang manis menawarkan. Yang bikin sebel saat mau klaim susah banget Mbak… Kapok sebetulnya ikut asuransi itu…hiks.

  4. aku belum tahu lho detailnya cerita ini. Ternyata pada nginap semua di RS ya
    Sehat2 terus ya Nyak, semoga tidak ada opname lagi kecuali kelak melahirkan, lagi.

Leave a Reply

Required fields are marked*