Marriage

Saat Salah Satu dari Kita Harus Pergi Lebih Dulu

[SPONSORED POST]

Saat Salah Satu dari Kita Harus Pergi Lebih Dulu

Syifa Abi Lathifa, nama anak perempuan itu. Dia adalah keponakan dari kakak sepupu saya. Tiap melihatnya, ingatan saya akan melayang kepada kisah di balik pemberian nama itu: tentang sebuah kehilangan.

Ibunya dulu, Mba Linda adalah perempuan yang sangat beruntung saat menerima pinangan dari seorang lelaki yang tak hanya tampan, mapan, tapi juga baik budi. Saya ingat pernikahan mereka di gelar secara mewah di sebuah gedung di bilangan Jakarta Selatan. Mas Anto yang merupakan manager di perusahaan privoder ternama di negeri ini, adalah sosok yang hangat dan ramah. Senang rasanya melihat kebahagiaan mereka, apalagi saat tak lama kemudian mereka di karunia seorang anak laki-laki.

Mereka adalah doa yang diam-diam saya simpan di sudut hati saya. Ya, keluarga yang hangat, kaya dan bahagia. Saat itu Syifa belum ada. Hingga saat kakaknya berusia 5 tahun, orangtuanya kembali meginginkan hadirnya buah hati. Perempuan jika bisa, biar sepasang. Kebahagiaan mereka nyaris sempurna, saat tak lama kemudian Mba Linda positif hamil. Kehamilannya sehat, dan saat pemeriksaaan USG sudah bisa melihat jenis kelamin, dokter mengatakan bahwa bayi itu perempuan.

Ya, kebahagiaan mereka nyaris sempurna. Hingga tiba kejadian itu.

Saat Mba Linda tengah menghitung hari menunggu kelahiran bayi perempuannya, Ia dikejutkan dengan kabar bahwa suaminya kecelakaan. Mas Anto yang sehari-hari kerja menaiki motor gedenya, kecelakaan tunggal di jalan dekat kompleks perumahan mereka. Iya, sudah hampir sampai rumah. Kecelakaan itu menyebabkan Mas Anto mengalami patah tulang leher, dan di rawat di sebuah rumah sakit besar di Semarang selama hampir satu bulan.

Semenjak suaminya kecelakaan, Mba Linda kehilangan senyum dan semangat. Ibunya berulang kali mengatakan kalau dia harus tetap kuat, nggak boleh sedih terus biar bayinya nggak ikut sedih. Ketika melahirkan bayinya, Mba LInda menangis sejadi-jadinya. Dalam angannya dia membayangkan kalau suaminya seharusnya menjadi orang yang paling berbahagia, karena anak perempuan yang diharapkannya telah lahir dengan selamat, sehat dan cantik.

Tak putus asa, Mba Linda kemudian menamai bayi itu dengan sebaik-baik harapan dan doa: Syifa Abi Lathifa. Penyembuh bagi ayah yang lembut hati.

saat salah satu dari kita pergi lebih dulu

Tapi ternyata takdir berkata lain, Mas Anto menghembuskan nafas terakhirnya tanpa sempat melihat anak perempuannya. Keluarga besar berduka. Tapi duka yang paling pekat dirasakan oleh Mba Linda. Sembari mendekap erat bayinya, air matanya bercucuran. Saat prosesi pemakaman telah selesai, Ia menyuruh kami menyingkirkan semua benda yang mengingatkan pada suaminya.

Tak berselang lama, dengan banyak pertimbangan terutama karena di Semarang Mba Linda tidak punya kerabat, akhirnya Ia pindah ke rumah orangtuanya di Jakarta. Rumah di Semarang di kontrakkan sampai saat ini. Ah iya, jika Anda ingin tahu apakah Mba LInda menikah lagi, jawabannya belum. Si kecil Syifa saat ini sudah kelas 4 SD, dan kakak laki-lakinya kelas 1 SMP.

ooooooo0000ooooooo

Kisah Mba LInda, selalu menjadi pengingat bagi saya dan suami, bahwa sebagai pasangan suami istri kita pasti menginginkan kehidupan pernikahan yang ideal. Bahagia berdua sampai kakek nenek, melihat anak-anak tumbuh dan sukses, kemudian menikmati usia senja dengan penuh kedamaian. Tapi apa kuasa kita sebagai manusia? Jika kemudian salah satu dari kita harus berpulang lebih dulu, bekal apa yang sudah kita siapkan untuk keluarga yag kita tinggalkan?

Untuk Mba LInda, Alhamdulillah karena Mas Anto menempati jabatan yang strategis di tempat kerjanya, maka tunjangan yang di dapat cukup besar. Bisa untuk membeli rumah yang cukup luas di kawasan Bogor. Anak-anakpun mendapat tunjangan setiap bulan sampai mereka usia 21 tahun. Jadi sepeninggal suaminya, Mba Linda tetap tenang menjalani hidup. Membesarkan, merawat dan mendidik anak-anak tanpa harus terbebani dengan biaya hidup dan pendidikan anak.

Nah, lalu bagaimana dengan kita?

Meski setiap orang dapat berencana, namun risiko atas kejadian yang tidak diinginkan mungkin dapat terjadi. Itu sebabnya memiliki proteksi finansial dalam sebuah keluarga memiliki posisi yang sama penting dengan berinvestasi. Salah satu proteksi finansial ini dapat dipenuhi melalui produk asuransi jiwa. Perbandingan asuransi jiwa dengan produk asuransi yang lain terletak pada penerima tanggungan atau ahli waris apabila tertanggung meninggal dunia.

Ah, tapi katanya asuransi itu rumit? Penjelasan produknya berbelit-belit? Klaimnya sulit?

Eits, jika Anda beranggapan demikian, sepertinya Anda belum tahu tentang Futuready. Futuready adalah broker asuransi online pertama yang memegang lisensi resmi dari OJK yang akan membantu membandingkan berbagai produk dari berbagai perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia sehingga Anda bisa memilih yang terbaik dan paling sesuai dengan kebutuhan Anda.

futuready

Sebagai orang awam, kadang kita bingung dengan banyaknya produk asuransi yang ditawarkan. Semuanya seakan bagus, semuanya seakan kita butuhkan. Jadi sebelum membeli, pelajari perbandingan asuransi jiwa antara produk asuransi yang satu dengan yang lainnya. Pastikan mengenal dan memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda.

Meskipun nih ya, membeli polis asuransi jiwa seperti membeli produk yang kita harapkan tidak pernah dipakai. Iyalah, kita semua mengharapkan kematian itu tidak terjadi saat usia muda dan rasanya sangat tabu untuk memperkirakan kapan kematian itu akan datang. Hal ini juga yang menyebabkan masih banyak masyarakat merasa tidak perlu memproteksi finansial keluarga atau membeli polis asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan di bawah kebutuhan (under-insured).

Padahal menjamin kebutuhan keluarga termasuk jika ada kejadian yang tidak kita kehendaki merupakan hal yang sangat penting. Jadi ketika salah satu dari kita, qadarullah pergi lebih dulu, maka yang meninggalkan dan yang ditinggalkan bisa sama-sama tenang. Meski sekali lagi, tidak ada yang menginginkan hal itu menimpa keluarga yang kita cintai.

Salam,

Nyak Rotun

36 Comments

  1. Makin ke depan marriage life, obrolan tentang kayak gini makin kpikiran juga ternyata huhu
    Ya Alloh semoga kita senantiasa selalu diberi nikmat sehat dan umur panjang ya mb rotun
    Huaaaaa jadi inget blom ndaftar asuransi…bpjspun blom diurus pulak

    1. Beneeer Nit. Walaupun mbahas ginian sama suami bikin baper, tapi tetep harus diomongin sih ya.
      Allahumma Amin, untuk doanya Nit. Yuk ah diurus

  2. Memang ya Nyak, kita harus prepare untuk segala kemungkinan meski itu sesuatu yang tidak kita inginkan. Sehingga ketika seorang perempuan mengalami kesulitan saat harus menjadi orang tua tunggal, para Ibu ini sudah siap dan tentunya investasi untuk hidup memang diperlukan ya Nyak.

    1. Hooh, Peh. Banyak juga kan kisah perempuan yang harus menjadi orangtua tunggal dan nggak siap, pontang panting mencari penghidupan untuk keluarganya.

  3. Beneeer Nit. Walaupun mbahas ginian sama suami bikin baper, tapi tetep harus diomongin sih ya.
    Allahumma Amin, untuk doanya Nit. Yuk ah diurus 🙂

  4. Sedih Mbak ceritanya….Hiks,
    Sebagai wanita juga harus prepare for the worst ya Mbak…

    1. Betul banget Mba. Meski mbahas ginian bikin sedih, bikin baper, tapi harus diomongin sama suami kalo menurutku sih.

  5. Semua semua dikaruniai sehat dan banyak rejeki. Aamiin.

    1. Allahumma Amin, MakLus 🙂

  6. Suka baper kalau ngomongin ini sama suami. suka gak suka, siap gak siap, harus siap jika suatu terjadi. dan semoga kehidupan setelah itu tetap baik. Aamiin YRA

    1. Iya Mba Ety, pasti baper banget ya :’)

      Allahumma Amin.

  7. kisah hidup manusia gak ada yang bisa menduga ya mba…
    siap tidak siap kita harus siap..
    tawakkal sambil menyiapkan diri

    1. Betul, Mba. KIta tinggal menjalani skenario yang sudah disiapkan olehNya 🙂

  8. Yang namanya ajal kita ga pernah tau ya, Nyak? Bisa saja kita atau dia yang mendahului dan yang ditinggal tentu harus prepare. Tak mudah memang, tapi jika kita sudah mempersiapkan diri terutama hati, Insyaallah, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. 🙂

    1. Betul, Mba Al. InsyaAllah 🙂

  9. Sedih ya mbak ceritanya, tapi insyaAllah Allah sdh menetapkan yg terbaik buat kita. Manusia hanya bisa bersiap2…

    1. Iya Mba April, butuh waktu lama buat Mba saya untuk bangkit dan kembali semangat.

  10. Kehilangan seseorang yg kita sayangi memang selalu menimbulkan lubang ya mbak… baik di hati maupun segi lainnya, jadi sedih … sebagai manusia kita hanya memang hanya bisa berusaha ya 🙂

    1. Bangeeet Mba. Dan lubang itu nggak akan pernah keisi dengan orang lain. Akan rapi tersimpan bersama segala kenangan tentangnya.

  11. Karena ajal siapa yang tahu. Tak tahu siapa yang akan pergi lebih dulu T.T

  12. Iya Mbak, tidak ada yang pernah tau, bagaimana masa depan kita. Oleh karenanya, kita harus mempersiapkan msa depan dengan sebai mungkin, salah satunya dengan memiliki asuransi, ya mbak.

    1. Betul, Mba. Meski nggak ada yang mau, tapi tetep sebagai manusia kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan yang terburuk sekalipun.

  13. Iya Mbak, tidak ada yang pernah tau, bagaimana masa depan kita. Oleh karenanya, kita harus mempersiapkan masa depan dengan sebaik mungkin, salah satunya dengan memiliki asuransi, ya mbak.

  14. Semakin memasuki usia menikah, lalu setelah menemukan calon partner hidup, aku semakin terpikirkan tentang hal hal serupa ini. Rasanya takut tapi hidup dan takdir ini ditentukan Yang Maha Kuasa. Ya Allah … khawatir. Mudah-mudahan hal hal baik yang terjadi nantinya. Aamiin.

    Btw asuransi jiwa memang penting ya.

    1. Amiiin. Jangan takut Mba, kita harus tetap melangkah maju. Sembari terus ikhtiar dan tawakkal pastinya ya 🙂

  15. Amin.

    Hihi, keras alias setrong ya guys 😀

  16. Ya Allah, sedih banget ceritanya Mba Linda, hiks :'(

    Semoga kita senantiasa diberi kesehatan yah Mba Rotun, amin..

    1. Amin, Mba Ira 🙂

  17. Ngebaca postingan ini, postingan saya tentang ini juga yang mirip. Keludian saya berpikir, takutkah saya dengan hari esok. Pasangan atau suami saya jikalau….?!
    Semoga kita selalu dalam perlindunganNya ya mba, aamiin ya Rabb.

    Dia nggak akannmeninggalkan kita, hanya Dia ^^

    1. Absolutely, Mba. Hanya Dia yang akan selalu bersama kita :’)

  18. Kisahnya hampir sama dengan yang dialami almarhumah mamah mertua saya, ditinggal meninggal oleh suami karena kecelakaan motor dekat rumahnya dan beliau harus merelakan 4 dari 8 anaknya untuk diasuh oleh saudara2nya karena tidak mampu membiayai hidup ke 8 anak mereka. Menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu mepersiapkan diri untuk masa depan anak2. Terima kasih untuk sharingnya mba 🙂

    1. Ya Allah, Mba :’))

      Semoga kelak anaknya mengerti ya, bahwa keadannalah yang memaksa Ibu untuk menitipkan mereka ke saudara.

  19. Aduh ini di luar ekspektasi bacanya. Meski judulnya membuatku prepare, tapi tetep aja sedih banget baca cerita ini Nyak. Wallahu’alam siapa dari kita mendahului, sementara bekalku begini-begini saja.

    1. Dikira bakal happy ending ya Lid? Sayagnya nggak ya T_T
      Cerita2 kayak gini yang seakan menepuk pundak kita dan bertanya, sudah sesiap apa kita? *mewek*

  20. […] Baca: Saat Salah Satu dari Kita Harus Pergi Lebih Dulu […]

Leave a Reply

Required fields are marked*