Contest

Selaksa Mimpi Tentang Bali

selaksa-mimpi-tentang-bali
Pantai Kuta, Bali. Foto dari blog Zen Rooms

Kebumen, 2003.

“Kalau kamu pengen ikut temen-temenmu ke Bali, kuwi jenenge ora rumongso ( itu namanya nggak tau diri)“.

DEG!

Bapak benar. Siapa saya kok berani-beraninya bermimpi bisa seneng-seneng kayak temen yang lain. Mbok ya mikir, untuk bisa sekolah sampai SMA aja udah berkah luar biasa. Kalau bukan karena beasiswa, mungkin saat itu nasib saya sama seperti kebanyakan teman-teman di kampung: merantau ke kota, menjadi asisten rumah tangga, paling banter menjadi buruh kontrak di pabrik. Atau opsi paling banyak, ya kawin muda. Padahal umur belum lagi genap 17 tahun.

Ah, saya jadi menyesal ngapain cerita ke Bapak tentang hebohnya temen-temen yang mau study tour ke Bali.

Entahlah, saat itu saya hanya berfikir bahwa itu adalah kesempatan terakhir untuk bisa ikut study tour yang di mata saya sebagai remaja begitu seru dan mengasyikkan. Toh saat SMP, saya sudah cukup berbesar hati untuk nggak ikut study tour meski tujuannya hanya Bandung dan Jakarta. Dekat dan murah, bagi mereka tentu saja.

Juga saat di kelas 2 SMA, teman-teman sekelas pergi tamasya ke Pangandaran. Lagi-lagi saya nggak ikut. Hanya bisa membayangkan seandainya saya bersama mereka, tentu akan sangat mengasyikkan.

sad

Dan saat kenaikan kelas, study tour ke Bali menjadi semacam rayuan bagi saya. Mumpung belum kelas 3. Nanti kalau udah kelas 3 kan harus serius belajar buat menghadapi ujian. Jadi sekarang di puas-puasin dulu main dan pikniknya.

Berbekal rayuan dari teman-teman itulah, saya cerita ke Bapak. Hanya bercerita, tanpa keberanian lebih untuk minta ijin. Saat itu biayanya Rp.400.000. Tapi itu jumlah yang sangat besar buat kami, saya dan Bapak. Wong uang kosan perbulan aja cuma 20 ribu. Jadi uang 400 ribu itu bisa buat bayar kos selama…20 bulan!

Mengerikan sekali bukan jika uang kos selama 20 bulan saya habiskan untuk 4 hari saja di Bali?

Oke, Bali. Bhay! 🙁

Dan akhirnya saat teman-teman dengan riuh bercerita tentang keseruan di Bali, saya hanya bisa menelan ludah dan memandang hampa ke gantungan kunci berbentuk sendal jepit, oleh-oleh dari mereka.

Bertahun-tahun setelahnya, saya masih menyimpan Bali di sudut hati saya. Berharap bahwa suatu saat saya bisa berkunjung ke sana, menuntaskan dendam sekaligus cinta tentangnya. Keinginan saya makin paripurna dengan banyaknya tagline bahwa katanya, jangan ngaku orang Indonesia kalau belum pernah ke Bali.

Jakarta, 2011.

Ya ya ya, sudah tahun 2011. 7 tahun sejak saya kelas 2 SMA. Apakah mimpi saya mengunjungi Bali sudah terwujud?

Sayangnya belum.

Kalian pasti mengira bahwa saya tidak benar-benar bermimpi, bukan? Karena katanya, kekuatan mimpi itu bisa mengalahkan segalanya.

Mungkin kalian benar, tapi tidak sepenuhnya benar.

Saya pernah memimpikan bahwa suatu saat saya akan diajak berbulan madu ke Bali, oleh suami saya. Nyatanya, saat menikah, boro-boro ke Bali. Suami yang saat itu baru lulus kuliah, belum memiliki penghasilan yang memadai. Sekedar mencukupi makan kami sebulan dan bayar kontrakan. Boro-boro mikirin bulan madu ke Bali.

Apalagi kemudian hadir buah hati di tengah keluarga kecil kami, maka fokus saya mulai bergeser. Dari keinginan menyenangkan diri sendiri, lalu mulai memikirkan nasib sang buah hati. Apakah makanannya cukup bergizi, apakah bajunya cukup hangat, apakah tabungan pendidikannya aman di rekening kami. Lalu apakah selama ini nggak pernah berlibur? Tentu saja pernah, cenderung sering. Tapi sebatas hanya di dalam kota.

Bali? Cukuplah Allah dan saya yang tau :’)

Wisata andalan sepanjang masa: Ragunan :D
Wisata andalan sepanjang masa: Ragunan 😀

Palopo, 2016

Saat ini, puji syukur saya dan suami sudah memiliki kehidupan yang jauuuh lebih baik. Alhamdulillah. Dia mendapat pekerjaan tetap di sebuah instansi pemerintah yang ‘memaksa’ kami hijrah dari ibukota ke kota Palopo, 2 tahun yang lalu.

Bersamaan dengan itu, saya menjadi seorang blogger yang banyak sekali kenal dengan travel blogger keren. Kok bisa jalan-jalan terus? Duitnya banyak banget? Dapet warisan?

NO!

Mereka bisa jalan-jalan karena menajemen keuangan yang baik. Karena mereka memang punya budget untuk traveling. Dan yang penting, mereka tidak takut untuk bermimpi dan mewujudkannya. Bukan hanya disimpan di dalam hati. Like me, huh?

Sementara di sisi lain, sebagai stay at home mom yang menghabiskan begitu banyak waktu untuk berjibaku dengan urusan rumah dan anak yang seakan tidak pernah habis, membuat saya sering merasa lelah dan stress. Nyak butuh pikniiikk. Padahal udah sering piknik lho. Dalam kota Palopo tapi.

[su_slider source=”media: 1870,1879,1871,1873″]

Pengeeen gitu liburan ke luar kota, menjelajah keindahan dan kekayaan Indonesia. Tapi tapi…dengan dua balita, saya selalu membayangkan bahwa traveling bersama mereka akan sangat merepotkan, melelahkan, dan menguras kantong. Transportasi, akomodasi, logistik. Aaaarrgh, pusing!

Mom Traveler? Family Traveling?

Ternyata ada ya. Dan banyak loh. Dan nggak repot loh.

Saya keranjingan dan takjub saat membuka blog mereka: Myra Anastasia, Olenka Priyadarsani, Muna Sungkar dan Noe Traveler. Mereka ibu-ibu seperti saya. Yang puya anak juga. Tapi bisa banget traveling dengan riang gembira. Membaca halaman demi halaman dari blog mereka, membuat saya yakin, bahwa family traveling bukanlah sebuah hal yang mustahil bagi saya. Jika mereka bisa, saya juga pasti bisa.

Nyak, ayo ke Bali Nyak. Jangan cuma di Palopo doang. Boseeeen.

Lamat-lamat saya mendengar bisikan dari hati saya sendiri. Ah, iya, apa kabarmu Bali? Masihkan ada di sudut hati?

Maka malam itu saya mengutarakan keinginan ke pemegang saham tunggal dalam keluarga aka suami tentang rencana liburan ke Bali. Tentu saya harus punya bargaining yang jitu untuk bisa lolos dari rentetan pertanyaannya. Kapan waktunya, mengingat dia bekerja di instansi pemerintah yang nggak bisa sembarangan cuti, berapa lama, dan tentu saja berapa biaya yang dibutuhkan.

Saya bilang,”Yang penting kamu mau dulu. Lagian kita kan udah punya andalan untuk #TravelingHemat, yaitu dengan menginap di Zen Rooms”

“Oiya bener. Oke deh”, jawabnya. Huwaaaa…*ciyum suami*

Iya, jadi anggapan kami bahwa family traveling itu memakan biaya yang cukup besar terutama untuk transportasi dan penginapan, terbantahkan sudah.

Tentang transportasi, kami sudah membuktikannya pas mudik ke Kebumen bulan Mei lalu: dengan cara hunting tiket promo dan pesan jauh-jauh hari. Hasilnya kami bisa mudik berempat dengan tiket yang sangat-sangat miring.

Sedangkan untuk penginapan, kami sudah membuktikan saat September kemarin berkesempatan untuk staycation di Zen Rooms Makassar. Meski hotel budget, tapi kenyamanan dan fasilitas sama sekali nggak mengecewakan.

The good news is, Zen Rooms ada dong di Bali. Yippieee.

Sayapun segera membuka web Zen Rooms untuk mencari info lebih lanjut. Dan langsung bengong lho pas lihat ternyata di Bali ada 295 hotel. Wow.

zen-rooms9-jpg

Langsung saya klik hotel di Bali, dan iya saya sukses bingung, karena gimana deh belum pernah ke Bali, jadi saking excitednya sampai bingung mau kemana aja -____-.

Duh Gusti, baru mbayangin akhirnya bisa pergi ke Bali aja rasanya udah campur aduk. Yang jelas bahagia banget. Apalagi bareng suami dan anak-anak. Semoga umurnya disampaikan dan perjalanannya dilancarkan. Amin.

See you!

pinky

 

46 Comments

  1. Amin. Semoga tercapai ya ke Bali nya…
    Saya malah lagi pengen ke Sulawesi, lho nyak…

    Saling doakan ya, hehehe! Btw di Sulawesi sudah ada Zen Rooms belum ya? Mau ih kalau ada

    1. Amin, saling mendoakan ya Teh :*
      Ada dooong. Di Makassar banyak kok jaringan Zen Rooms. Aku pernah nginep di sana juga :).

  2. Wahh Bali memang selalu bikin rindu.. rindu untuk bertamu. Semoga kali ini kesampaian ya. Hihi.. dan aku ikut jejak mba rotun submit last minute.. hihii

    1. Amiiinnn.
      Mba Ira biarpun last minute tetep kece badaaaaai.
      Ajari aku nulis dong Mba, gaya feature nya Mba Ira aku suka banget <3

  3. Mau ikutan, Nyak. Muraaah tuh Zen Roomsnya

    1. Boyeeeehh. Abis itu ajak aku ke KL ya, muehehe..

  4. Amiin, semoga terlaksana ke Bali nya. Iya, di Bali banyak tuh, ada 200-an (nyaris 300 ya).
    Saya juga mau mencicipi ZenRooms ini, harga murah kelas atas. Fasilitas mantab. COcok bagi pengelana yang(bawa anak) pengen nyantai-nyantai.

    1. Nah, kalimat terakhir iya banget tuh Mba. Kalau tempat nginepnya enak, anak-anak moodnya bagus. Dan emaknya bisa gegoleran tanpa diriweuhin sama mereka^^

  5. Wah, mau liburan murah dan gratis. Aku ke Bali sama balitaku acara Munas FLP 3 gak sempat banyak jalanjalan.

    1. Iyakah Mba Naqi? Enaknyaaa.

  6. Wah, asyik ya kalau stay vacation di zen rooms. Ikut nyak ke Bali

    1. Hayuuuk, perlu ajak pasukan #GengIjoek yang lain nggak? Biar petjah sekalian 😀

  7. Dwi Puspita

    Ya Allah mbak, tulisanmu ngena banget. Akkkk…mupeng dan bikin nagih pokoknya ke Bali….bulan kemarin aku bareng blogger Suroboyo ngetrip bareng ke Bali… 🙂

    1. Ngena gimana maksudnya? Wkwkwk. Iya itu lho, enak bener Mba Dwi bisa ke Bali rame2. Tapi memang deket sih ya kalau dari Surabaya.

  8. Semoga tercapai ya ke Balinya. Kemarin pas hamil sih ngidam ke Bali tapi nggak kesampaian. Padahal dah kangen Bali.. Nabung juga ah..pengin ke Bali lagi. nanti nginapnya di Zen Roms..

    1. Amiiinnn.
      Sekarang udah lahiran Mba? Hayuk ke Bali bareng <3

  9. Wahhh…mau donk kalau diajak ke Bali (gretongan) 😀

    1. HIyaaah, kalau gretong mah siapa yang nggak mau Mas 😀

  10. Aih yuk lah ke Bali sama aku deh :3

    1. Maoooookkk <3 <3

  11. eh foto pantai kutanya di awal itu sepintas mirip foto pantai mawun di Lombok 🙂

    1. Iyakah Mba?
      Btw ngomongin Lombok pengen banget ke Lombok, huhu

  12. aku banyak liat review zenroom mbak, ternyata harganya murah2 ya untuk ukuran penginapan yang bagus
    semoga impiannya kebali segera terwujud yaaa

    1. Bener banget Mba Ria, aku udah membuktikan sendiri.
      Amiiin, Makasih doanya ya 🙂

  13. Noe

    Nyaak, ajakin aku ke Bali nyaak. Huhuhu… di Bali banyak kamar zenrooms dg harga under 200 K, ada kolam renang pula. Anak2 kitah pasti gembira nyaak

    1. ayooook. Gembira ria tiada tara deh. Entar kita bisa rumpi-rumpi syantiek :3

  14. Saya pas SMA juga nggak ngikut ke Bali soalnya teman segenk nggak ikutan. Memang ke Bali enaknya sama orang-orang yang dicinta. Akhirnya saya ke Bali sama suami dan rasanya justru romantis banget.

    1. Nah iya bener. Sama orang tercinta malah asoy banget ya Mba.
      Tambah nggak sabaaarrr

  15. Semoga segera tercapai mbaaa… tapi untuk nyari makanan halal disana katanya lumayan menantang ya?

    1. Masa sih, Un? Harus banyak2 nyari infp berarti nih. Paling nyari aman ya makan di tempat2 yang udah jelas aja. Atau bawa bekel sekalian, hahaha.

  16. Bali; kampung halaman ibu :’)
    semoga kita bisa berangkat ke Bali bareng ya Nyak

    1. Amiiiinnn..
      Kapan terakhir pulkam ke Bali, Nyi?

  17. Mel Allira

    Wah, ternyata fasilitas Zen Rooms oke ya untuk liburan budget bersama keluarga, Mbak.. Thx infonya, aku mau cek juga ah yang di Bali 🙂 Nanti cerita lagi ya, Nyak klo udah pulang dari jalan2nya!

    1. Oke banget Mba, udah pernah membuktikan sendiri soalnya.
      Siaaap Mba. Amin.

  18. Aku malah pengen ke Makasar mbak, kepengen banget dari dulu tapi belum kesampaian sampai sekarang. 😀

    1. Iyakah? Ayo sini ke Makassar Dek. Aku bersedia jadi guide nya deh 😀

  19. Wah, sama. Mimpiku juga pengen ngajak keluarga ke Bali. Eh btw, liat-liat websitenya, Zenroom ini lebih murah daripada kamar yang lain, ya. Kudu nyoba nih sesekali..

    1. Ayo Teh kita ngetrip ke Bali rame-rame <3.
      Aku pernah nyoba sekali nginpe di Zen Room, terus pengen lagi 🙂

  20. aku mau ke bali, tp tahun 2018 (aamiin). nunggu si aa balik dr pesantren dulu. mau bareng? eee kelamaan yak

    1. Amiiinnn..
      Sekalian merayakan kelulusan Aa ya Mba, hihi.
      Boleh bareeeng. Kali aja aku mau balik lagi taun segitu Mba :3

  21. Saya masih penasaran dengan konsep Zenroom ini loh, Nyak. Masih belum begitu mudeng dengan cara kerjanya. Nanti saya nanya2 deh sama nyak hehe

    btw, semoga Allah perkenankan Nyak dan keluarga jalan2 keliling Indonesia, gak cuma ke Bali aja ya. Insya allah, yakin aja Nyak.

    1. Simpelnya, Zen Room ini kayak standardisasi untuk pelayanan hotel, Peh. Jadi misal hotelnya beda-beda, tapi kalau mereka kerjasama dengan Zen Room, bisa dipastikan semua fasilitas dan layanannya sama. Gitu deh.

      Allahumma Amin, ya Mujib 🙂

  22. Cuma 175 rb dengan hotel kece kayak gtu? Waahhh zenrooms keren jga..mau.ah cari2

    1. Iyeeeesss. Keren memang kok Mba, hihi. Monggo dicoba 🙂

  23. keinginan kita sama Mba Rotun, sejak dulu saya pengen banget ke Bali tapi gak pernah jadi.
    beberapa kali dapat kesempatan ke sana tapi selalu saja gagal, huhuhu 🙁

    semoga kita bisa secepatnya menginjakkan kaki ke sana yah Mba, amin..

  24. Amiiiin…semoga terwujud jelong2 ke Balinya ya Nyak!
    Jangan lupa aku tunggu di Zen Room eeaaaa

Leave a Reply

Required fields are marked*