Cerita Nyak, Contest

Story of My Life: Rotun si Anak Dusun

1457389372117

Story of My Life: Rotun si Anak Dusun.

Bismillah.

Perlu waktu lama untuk memutuskan ikut atau nggak nya giveaway dari Mba Ika Puspita ini. Sebagai ratu ngontes, awal Mba Ika mengumumkan bahwa Ia mengadakan giveaway, saya langsung semangat. Apalagi pas melihat hadiahnya yang unyu-unyu. “Aku ikut Mbaaa…”, komen saya di beranda facebooknya. Mba Ika yang saya kenal hanya di dunia maya adalah sosok yang rendah hati tapi penuh prestasi. Blognya bagus dan informatif, selain nulis di blog, Mba Ika juga sudah menerbitkan 3 buku. Apa lebih ya? Semoga lebih dan akan terus nambah ya Mba :). Kamu keren Mba, apalagi pas tau ternyata kota kelahiran kita masih tetanggaan. Aku jadi termotivasi. Kalau orang Purworejo bisa sukses, cah Kebumen juga insya Allah bisa :D. By the way, begitu melihat tema giveaway saya mulai ragu. Sejarah hidup. Melemparkan saya ke puluhan tahun silam, dengan sejarah hidup yang penuh dengan kisah. Tidak melulu tentang kesedihan memang, tapi sebagian besar hidup saya di belakang sana, penuh dengan perjuangan dan air mata, yang berakhir dengan keberhasilan, maupun kegagalan.

Menceritakan tentang sejarah hidup memaksa saya membuka lembaran yang orang lain belum ketahui. Tentang masa kecil yang kesepian, tentang anak yang merindukan kasih sayang ibunya, tentang anak yang -lagi dan lagi- harus mengubur dalam-dalam semua cita-citanya, tentang saya yang hanya lulusan SMA. Tapi saya pikir tak apa, toh saya amat bersyukur bisa berada di kondisi saat ini. Saya punya keluarga, suami dan anak-anak yang saya cintai. Saya punya sahabat dan teman yang banyak, dan baik-baik. Saya bisa menjadi penulis seperti yang jauh hari saya cita-citakan, meski baru sebatas di blog pribadi. Cerita ini mudah-mudahan bisa menjadi pengingat, khususnya bagi saya pribadi agar tak lupa bersyukur atas segala nikmat dan pencapaian, sekecil apapun itu.

Selamat datang di cerita penuh warna. Cerita seorang Rotun.

Simbok Kapan Pulang, Pak?

Hampir setiap hari, pertanyaan itu muncul dari adik kecil saya, Nafi. Bocah berumur 3 tahun itu selalu mencari Simbok, Ibu kami yang saat itu pergi merantau demi mencari kehidupan yang lebih layak untuk kami. Simbok pergi mencari uang bukan lagi ke luar kota atau pulau, tapi luar negeri. Negeri yang saat itu bagi otak mungil saya dan Nafi sama sekali tidak terbayang: Arab Saudi. Kami hanya tahu, katanya Arab itu jauh, kalau kesana harus naik pesawat. Jadi Simbok tentu tidak akan pulang menjelang sore hari, seperti jika Simbok buruh tandur di sawah. Apakah Simbok meminta pendapat kami? Tidak. Saya hanya ingat malam itu Simbok menciumi kami bertubi tubi, dengan isak yang tertahan. Saya yang saat itu berumur 9 tahun sudah mengerti, bahwa Simbok akan meninggalkan kami. Tapi tidak dengan Nafi. Ia malah meronta ketika pulas tidurnya terganggu dengan pelukan dan ciuman dari Simbok.

Deru mobil Lek Darmi, sponsor TKW yang akan membawa Simbok ke Jakarta untuk belajar di yayasan TKI terdengar mulai meninggalkan rumah. Tetangga pun meninggalkan rumah saya satu per satu, setelah mengantarkan kepergian Simbok. Saya meringkuk di pojok dipan, menangis sesenggukan. Ooh..anak mana yang senang berpisah dan ditinggalkan oleh Ibunya? Dalam hati saya menghitung hitung, jika benar Simbok pergi selama dua tahun, maka jika dalam setahun -seperti kata Pak Guru- ada 365 hari, maka saya akan bertemu Simbok 730 hari lagi. T u j u h  r a t u s  t i g a  p u  l u h. Itu waktu yang lama. Lamaaaaaaaa sekali, pikir saya. Dan setiap mengingat itu, saya kembali menangis.

Tapi toh sebagai anak-anak, terkadang saya pelupa. Jika sedang asyik bermain kasti, atau memancing ikan di blumbangan depan rumah saya bisa sejenak lupa tentang Simbok. Meski begitu pulang ke rumah, luka saya kembali menganga, tidak ada masakan simbok yang enak-enak, tidak ada lanting di toples yang tadinya selalu Simbok sediakan untuk saya dan Nafi. Tapi seperti kata pepatah, waktu adalah penyembuh yang terbaik. Maka hari-hari selanjutnya kami toh menjadi terbiasa menjalani hdup tanpa Simbok.

story of my life
Kakak saya dan istrinya, Simbok, Bapak, Saya, Nafi.

Aku Sekolahnya Gimana, Pak?

Saya bertanya sembari membuntuti Bapak yang tengah sibuk melipat dan mengikat karung ke sepeda yang akan dibawa ke sawah untuk wadah padi hasil panen. “Bolos dulu, Bapak ngurusi panen, buat makan kamu dan Nafi”, jawab Bapak singkat. “Wis yo, itu Bapak udah masakin jamur kesukaan Nafi. Jangan lupa adeknya disuapin, rumahnya diberesin”, titah Bapak.

Entah saya yang cengeng atau memang sudah seharusnya begitu, saya kembali menangis. Saya begitu mencintai sekolah. Menggilai belajar. Dan Bapak bukannya abai dengan itu. Toh Bapak juga tau jika setiap pengambilan rapor, selalu angka 1 atau 2 yang tertera di samping kata ranking. Tapi mau bagaimana? Ada sawah yang harus di panen sementara ada Nafi yang harus dijaga. Saya tidak ingat berapa sering saya bolos sekolah. Yang saya ingat, suatu siang di jam pulang sekolah, ramai teman-teman sekelas menyambangi rumah saya. “Jare Pak Guru ngesuk kowe mangkat sekolah bae, Nafi ulih dijak. Mengko bisa dolanan bareng-bareng” (kata Pak Guru besok kamu berangkat sekolah aja, Nafi boleh diajak. Nanti kan bisa main bareng kita). Saya terlonjak girang. Buru-buru membongkar lemari, mencari seragam sekolah kelas satu dulu. Ketemu! Saya pakaikan ke Nafi, pas sekali di badannya. “Sesuk nderek Yayu sekolah yo Dek, tapi ora pareng nakal”. ( Besok ikut kakak sekolah ya Dek, tapi nggak boleh nakal). Nafi mengangguk dan tertawa kegirangan memakai seragam sekolah sama seperti kakaknya.

Ah, Nafi. Sampai sekarang ia selalu berujar bahwa masa kecilnya tidak pernah merasakan kasih sayang simbok. Sayalah ‘Ibu’ baginya. Memandikan, menyuapi, momong, belajar dan bermain bersamanya. Ada kejadian lucu saat di sekolah. Maklumlah, saya juga anak-anak yang suka lupa segalanya saat bermain. Bel sekolah berbunyi, tapi Nafi tidak ada di samping saya. Bahkan di halaman sekolahpun. Panik, saya dibantu teman-teman mencarinya. Ternyata Nafi sedang menangis di depan toko kelontong dekat sekolah, pengen beli jajan. Oalaaah, saya yang memang tidak pernah dikasih sangu, bingung mendiamkan. Sampai akhirnya Pak Guru menghampiri kami dan memberi uang limapuluh rupiah untuk membeli jajan. “Maturnuwun nggih, Pak”, ujar kami kegirangan :D.

Nafi dan suaminya :)
Nafi dan suaminya 🙂

10 Kilometer

Adalah jarak yang saya tempuh untuk sekolah ke SMP N 1 Petanahan. Meski mayoritas bahkan hampir semua lulusan SD di desa saya melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiah, tapi saya lebih memilih SMP umum saja. Entahlah, saya saat itu sama sekali tidak tertarik dengan MTs. Nggak keren menurut saya, banyak yang nyamain, hahaha. Dari teman sekelas, hanya 2 orang, saya dan Neni yang melanjutkan ke SMP. Lainnya? Bedol desa ke MTs :D. Tidak banyak yang ingin saya ceritakan tentang episode SMP, selain beratnya perjuangan mengayuh sepeda setiap hari melewati persawahan. Apalagi jika hari Jumat dan waktunya ekskul Pramuka. Beuuh, serba salah saya. Mau nunggu di sekolah dari jam 11 sampai jam 2 siang nggak ada temennya, tapi kalau mau pulang males berangkat lagi. Saya harus melawan angin yang sedang kencang-kencangnya jam 2 siang itu. Setengah mati mengayuh pedal sepeda agar tetap melaju. Tapi toh 3 tahun berhasil saya lalui, dengan pencapaian berupa betis yang mrengkel mirip tukang becak, dan kulit yang menghitam karena terbakar matahari XD.

Screenshot_2016-03-17-05-41-39-1
Jalan yang setiap hari saya lalui untuk bisa sampai ke sekolah.

Jalannya jelek banget. Iya emang. Hahaha. Ini masih mending pas musim kemarau. Kalau musim hujan, jalanan ini akan tergenang dan membuat perjuangan naik sepeda tambah berat. Suatu kali saya pernah tercebur ke sawah, saking derasnya aliran air dari kanan jalan ke kiri jalan. Saya tercebur, berikut sepedanya. Saya berhasil menyelamatkan diri, tapi sepeda saya tenggelam. Untunglah ada orang yang menolong saya. Mutung, saya kembali ke rumah dan gagal ke sekolah. Saking jeleknya jalan ke desa saya, sampai punya nama lain yaitu Kuala Berlumpur XD. Tapi kata Simbok sekarang jalannya udah bagus, udah di cor. Alhamdulillah 🙂

Panggilan Nyak dan Masa SMA yang Penuh Warna

Di desa saya, hanya segelintir anak yang beruntung bisa melanjutkan sekolah ke tingkat atas. Sebagian besar tidak mampu, tapi yang jelas satu: tidak adanya kemauan. Lalu mau apa selulus MTs/SMP? Ada yang menikah, tapi paling banyak berangkat kerja ke Ibukota atau Bandung. Kerja apa? Asisten rumah tangga tentu saja, atau jika beruntung ada saudara yang membawa, bisa kerja menjadi buruh pabrik atau pegawai salon. Yang laki-laki mulai terjun ke sawah, membantu bercocok tanam atau membuat batu bata.

Lalu bagaimana dengan saya? Hampir bernasib serupa, jika saja Allah tidak memainkan rencanaNya yang begitu indah. Menjelang kelulusan SMP, saya dipanggil oleh Pak Mujiono, guru BP sekolah. Apa hal? Saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke SMA! Allahu Akbar, Alhamdulillah, saat itu rasanya seperti melayang. Saya mencium tangan Pak Muji berkali-kali sambil merapalkan terimakasih. Singkatnya, saya masuk ke SMA 2 Kebumen dan kos karena jarak yang tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan laju.

Awal SMA, saya sempat merasa rendah diri. Bagaimana tidak? Anak ndeso mlebu kutho. Ngliat temen cakep-cakep, sepatu dan tasnya bagus-bagus, sekolahnya naik motor atau diantar mobil. Saya? ah, sudahlah, off the record :p. Tapi begitu semester pertama saya berhasil meraih ranking 1, saya mulai merasa PD dan teman-teman mulai ngeh ada saya di kelas. Eh, ggak separah itu sih. Saya cukup femes kok. Femes karena ndeso maksudnya, bahaha..Daan, di kelas 1 inilah saya mendapat panggilan ‘NYAK’. Kenapakah? apa tampang saya mirip enyak-enyak? Nggak tauu..dan nggak inget awal saya dipanggil nyak. Cuma pas itu emang lagi ngehits sinetron Tarzan Betawi dengan pemeran utamanya Mandra yang soundtracknya “Nyaaaak…aye nggak tahan. Enyak kelewatan, aye ditinggal di utan..dst..dst”. Tapi entah apa hubungannya kok saya jadi dipanggil nyak. Sepertinya saya harus meneliti dan mengkaji dengan mendalam. LOL. Panggilan ini menyebar seantero sekolah. Bahkan sampai gurupun memanggil saya nyak. Yasudslah, saya nyaman aja sih. Apalagi sekarang, udah jadi nyak beneran kan? :). Malah Nyak Rotun akhirnya saya abadikan sebagai nama blog saya.

Masa SMA masa yang paling indah? Iya banget. Saya nggak nemu pacar sih, tapi saya menemukan teman dan sahabat-sahabat yang tulus. Saya merasa dihargai sebagai diri saya apa adanya, bukan ada apanya. Dan hei, tentu saja seperti kebanyakan anak SMA, di kelas 2 saya mempunyai geng yang femes seantero sekolah *PD abes* namanya 12fun (baca: twelve fun). Heeeeh..itu geng apa rombongan qasidah? banyak beneeer XD. Iya emang banyak, tapi kita tetap kompak, eeaaa..bahkan sampai sekarang. Tiap tahun kita menyempatkan ngumpul, bukber pas ramadhan saat kami yang sudah menyebar ke berbagai kota, mudik ke kampung halaman tercinta.

story of my life
12fun dan teman-teman yang lain di salah satu momen bukber. Formasi nggak lengkap tapinya. Miss you, geng 🙂

Berjuang di Ibukota

Selulus SMA, saya sungguh tak punya niatan muluk-muluk bisa kuliah. Cukup kerja, cari uang yang banyak biar bisa ngasih ke orangtua. Seneng banget mbayangin bisa ngasih uang ke orangtua saya yang sudah cukup bersabar dan berbesar hati anaknya sekolah sampai SMA, hal yang sangat jarang terjadi di kampung. Tapi toh saya tetap berusaha mencari kuliah gratisan. Dan sayapun mengikuti tes masuk STAN ( Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Qadarullah nggak lulus, mungkin karena orangtua sebenarnya memang nggak ridho, hehehe. Akhirnya saya bekerja apa saja. Pernah mejadi penjaga toko di Jogja, dan akhirnya seperti kebanyakan manusia Indonesia, merantau ke Ibukota. Singkatnya saya menjadi guru TK dengan modal kenal dengan kepala sekolahya hingga beliau berbaik hati membolehkan saya menjadi guru bantu sementara siangnya saya disuruh kuliah PGTK. Cukup lama saya mengajar, dari tahun 2006 sampai takdir mempertemukan saya dengan pacar pertama jodoh dunia akhirat di tahun 2009 🙂

______

*Simbok pulang dari Arab saat saya kelas 6 SD, tapi setelah itu merantau ke Jakarta, Bandung, Tangerang, dll. Simbok baru bener-bener stay di rumah setelah saya SMA.

** Yang penasaran dengan desa tempat tinggal saya, silahkan klik di sini. Terpujilah wahai siapapun yang membuat blog desaarjowinangun.com, meski saat ini udah nggak aktif sepertinya. Surprise! Nggak sengaja nemu pas search gambar tentang desa saya. Fotonya komplit, sukses membuat saya mewek pengen pulang.

***Yang ingin tau bagaimana saya bisa terdampar di Palopo, bisa baca ceritanya di sini.

InsyaAllah kisah-kisah lain akan saya tulis di blog ini. Stay tune ya^^

Salam,

-Rotun DF-

Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway.

83 Comments

  1. Aaah masih kurang nih ceritanyaaa….*saking asyiknya baca. Ga pa2 wong ndeso tapi rejeki kutho yo Nyak (melu2 panggil Nyak ben akrab yo)…
    Makasih sudah meramaikan GA ku ya…
    keep silaturrahim ya Nyak *aku juga suka stalking blog ini lho, liat foto2 masakan yang endes surendes wkwk 😀

    1. Rotun DF

      Hahaha, aku takut yang mbaca bosen Mba, kepanjangan. Nantilah ada sekuelnya *kalahAADC XD.
      Allahumma Aamin, kaya Mas Tukul yo, ndeso rejeki kutho, wkwkwk..
      InsyaAllah Mba, makasiiihh..:)

  2. Seru cerita nya mbak 🙂
    Gak berasa padahal baca 1850 kata, sampai mbak rotun sendiri yg ingetin..hihi

    1. Rotun DF

      Iyakah? Alhamdulillah. Makasih ya Sofi :). Mudah2an ceritanya nggak nggantung, takut kepanjangan abisnya XD.

  3. Mewek deh ah. Aku suka lewat sini kalau pulkam ke Banyumas.
    Aku juga anak ndeso nyaaaak.

    1. Rotun DF

      Mba Ety aja yang baca mewek. Aku yang nulis berderai2 T_T. Toss lah sesama ndeso kalo gitu, wkwkw..

  4. Huaa nggak bayangin jauh dari ibunda… tapi begitulah apa yang kita lewati akan membentuk diri kita sekarang ini.. jika sudah terbiasa dengan benturan, insya Allah hidup sekeras apapun di depan sana akan siap dilalui ya mbak , apalagi setelah bersama jodoh dunia akhirat 🙂

    1. Rotun DF

      Bener banget…benturan yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu 🙂

  5. ini jenis GA yang bikin saya mikir, ‘ikut nggak-ikut nggak’ maka yang ikut GA ini saya sebut pemberani 😀
    biar pun saya tinggal di kota saya juga (kelakuan) anak ndeso *malah sampai sekarang* ada yang sama juga lho nyak, kalau nyak 12fun saya geng12….. sama-sama banyak 😀

    1. Rotun DF

      Aku berarti pemberani nih? Hahaha…Eh, iya bisa sama ya, ber 12. Toss Lid 😀

  6. Sofy hidayati

    Kereen abis ceritanya. Aku tunggu lanjutan ceritanya ya Nyak..Semoga menang..

    1. Rotun DF

      Makasiiih, Sofi. Siip, semoga segera ya kelanjutannya. Amin, makasih untuk doanya 🙂

  7. aih ternyata nyakkk begitu ya ceritamu 😀

    1. Rotun DF

      Hehehe..iya Mba In 😉

  8. Suka bgt sama tulisannya. Enak dibaca, ga ngebosenin, ga kerasa udah mau 2000 kata. Hehehe

    Good luck Mak 🙂

    1. Rotun DF

      Aaaahh..makasih Mba Sinta 🙂

  9. Penasaran sama lanjutan ceritanya..wah di palopo ya, sepropinsi berarti kita

    1. Rotun DF

      Hihi..nantikan kelanjutannya ya. Oya? Di sulsel juga ya, dimananya Mba?

  10. Membaca ini jadi terharu sekaligus membuat semangat mba. Karena merasa terikut semangat mba. Salam hormat buat ibu dan bapak ya. Dan juga buat Nafi. Entah mengapa, saya jadi suka sama Nafi gara gara baca cerita mba ini.

    1. Rotun DF

      Iyakah Mba? Alhamdulillah, semangat semangat :)). Insya Allah salamnya disampaikan. Makasih banyak yaaa..

  11. Salam kenal Nyak Rotun.. 🙂

    toss dulu Nyak, sesama ngapakers Ndeso-ers hihi. saya asal wonosobo domisili semarang *ih ga ditanya juga 😀

    Perjuangan ibu memang selalu amazing, demi anak-anaknya… *dansayasuksesmewek

    1. Rotun DF

      Hai, salam kenal juga. Toss ah. Cup cup, udah meweknya 😉

  12. saya nunggu kelanjutan kisahnya nih mba rotun hehe

    1. Rotun DF

      Wah, makasih Mba. InsyaAllah segera ya 🙂

  13. Jadi itu asal usulnya nama blog ada nyak-nya. Ceritanya menarik, Mbak. Sy baca dari awal sampai akhir lho 🙂

    1. Rotun DF

      Waaah..ada Mba Hairi. Saya tersanjung nih. Alhamdulillah, semoga selanjutnya bisa nulis fiksi seperti Mba ya.

  14. Ria

    Saya cuma bida bilang luar biasa ya mbak, kisah hidup dirimu. Dan dirimu hebat bisa mengenang nya dengan baik.

    1. Rotun DF

      Makasih Mba, iya..semuanya masih lekat di ingatan.

  15. Wuah sejarah hidup mu sungguh berliku ya mak, sedih pastinya ditinggal sama ibu. Adikku aja ngga ngeliat ibunya berapa menit udah nyariin, anak-anakku kupun gitu. Tapi apa yang dilakukan ibu pasti demi kebaikan keluarga, sungguh mulia beliau hingga rela jauh2 mencari nafkah.

    1. Rotun DF

      Sedih banget Mak..Iya bener, sedih kalo inget demi anak2 rela pergi sejauh itu :(. Doakan semoga saya bisa membahagiakan beliau ya Mak..

  16. Delyanet Karmoni

    Panjang, tapi asyik sih bacanya. Salam kenal nyak Rotun. Semoga sukses GA nya 😉 Saya nggak sempat ngeramein, ihiks

    1. Rotun DF

      Salam kenal juga Mba..Amin, makasih doanya ya!

  17. Nyaaaak…..
    aku bacanya sampe mengharu biru.

    *gimana caranya nulis bisa bikin orang nangis siih…Nyak??

    Suka banget tulisan Nyak Rotun.
    Supeeeerrr!

    1. Rotun DF

      Menulis dengan hati Len, insyaAllah akan sampai ke hati :). Ini juga masih terus belajar Len, ayo sama2. Makasih ya Lendy sayaang

  18. Cerita hidup masa lalu yang harus selalu dikenang, untuk kemudian disyukuri bahwa Allah selalu bersama kita. Membaca ini saya ikut berimajinasi tentang saat itu…

    1. Rotun DF

      Sepakat sekali Mba Ren..:)

  19. Baca ceritanya gado2, terharu dan salut sm perjuangan nyak. Keep fighting ya…

    1. Rotun DF

      Aminn..insyaAllah. Makasih supportnya ya Ndri 🙂

  20. berkaca-kaca bacanya…
    posisi simbok yang harus ninggalin anaknya?
    saya seorang ibu, jauh sama anak itu rasanya enggak enak banget
    simbok, hebatttt… 🙂

    semangat yaa Nyak Rotun 🙂

    1. Rotun DF

      Iya, sisi lain yang bisa dilihat adalah hebatnya simbok yang bisa menahan rindu dengan anak-anaknya :(. InsyaAllah witri, semangattt!! 😀

  21. Untung

    NYAAAAAAAKKK….
    Salut..Keren.. Lanjutkan..

    1. Rotun DF

      Untuuung..makasiih makasiiihh…

  22. Nyak…eh mbak… :), tulisannya enak dibaca ngga terasa kalo sampe segitu panjangnya…

    1. Rotun DF

      Alhamdulillah, makasih ya..

  23. Mbak…aku suka mbacanya…..aku juga dari kampung. Pernah nyepeda lewati sawah2 juga… Meski perjuanganku ndak seberat njenengan…
    Hidup yang penuh warna mbak…

    1. Rotun DF

      Makasih ya..oya? Kenangan yang manis ya, yuk kapan sepedaan lagi 🙂

  24. jadi panggilan nyak itu sudah lama ya mba 🙂

    1. Rotun DF

      Hooh Mba 😉

  25. wooohhh,, inspiratif nyakk… blognya juga rame, blogku udah lama mati suri,,hehe

    1. Rotun DF

      Torooo…kemana aja? Makasiih..ayo idupin lagi blognya 😉

      1. nurwidyantoro

        disini saja… 😀 ini blognya lagi beres-beres lagi,,, he

        1. Rotun DF

          Iya tadi aku udah mampir. Udah bagus dan banyak gitu kok postingannya. Ayok nulis lagi 😀

  26. Hahaha… ga terasa saya membaca kisahmu Nyak Rotun…
    ibu anak anak IPs4 Yang nakalnya minta ampun tak beraturan tapi segudang prestasi hahaha
    apalagi lomba ultah smanda

    akan ada sesuatu yang indah bagi orang yang bersyukur
    Barakallah

    1. Rotun DF

      Hahahaa…Bambang, saksi hidup yah XD. Jadi satu novel kalo cerita IPS4, paraaah…hahaha
      Ada tu kisah IPS4 di postingan Bully Verbal. Cek deh 😀

  27. Aaaa mbak nyak rotun(?) a.k.a mba rotunnnn kok lagi seru baca malah habis sih? Bikin novel gih sanaaaaa!!!!!! :”)

    1. Rotun DF

      Duuh..iya Dek, kurang ya? Cup cup, besok disambung lagi ya. Aamiin…makasih supportnya. InsyaAllah big project Mba itu. Doakan ya!

  28. Diyah ekayanti

    Manaaa terusannnyaaa….

    1. Rotun DF

      Huhuhuu..iya beloman nih. Sabar yaaa…;)

  29. Nyak, ceritamu menghayat hati Hayati, eh saya. Dan benar2 mengalir sampai gak terasa *loh kok sudah selesai*

    1. Rotun DF

      Hahaha…hayati lelah Bang #eh XD.
      Makasih ya Ipeeh..:*

  30. Syamsi

    Nyak Rotun, merindukan dirimu….

    1. Rotun DF

      Syamsi..merindukan dirimu jugaaa dan kehangatan penghuni Hikari yang lain 🙂

  31. Owalah.. Dari situ nama Nyak Rotun rilis. Hihihi..
    Duh, kisah yang mengharukan, mbak. Bisa jadi cerita buat anak cucu nanti 🙂

    1. Rotun DF

      Hihi..iya Mba Ria 🙂

  32. Waaaah Mbak Rotun kereeeen bangeeet..
    Cara bicara dan nulisnya sama2 keren, apalagi perjuangan hidupnya hehe…..
    Ditunggu lanjutannya ya, mbak 🙂

    1. Rotun DF

      Aduuuhh..dipuji editor, meleleh deh aku. Siap-siap aku kirimin naskah buat diedit ya Kinur, wkwkwk…

  33. trenyuh mbak pas ibunda memutuskan berjuang ikut mencari nafkah 🙂
    aaaakk lanting…betewe aku cah prembun mbak, kebumen juga hihii
    makanya tau lanting
    wah perjuangan waktu momong nafi juga bikin mbrebes mili huhuu

    1. Rotun DF

      Kancaku uakeeh cah Prembun, Nit…;)

  34. Terharuuuuu, Mbak Rotun :’)
    TUlisan ini sukses membuat mata saya berkaca-kaca.

    Dirimu pejuang.

    Pengen tahu kisah pertemuan dengan pangeranmu dong Mbak Rotun :))))

    Cerita di Palopo?
    Hm, baca ndak yah … baca ndak yah ….

    1. Rotun DF

      Terimakasih banyaaak, Kak Niar..:’). InsyaAllah, ijin dulu sama pangerannya ya, wkwkwk…Ayo baca dong baca 😀

  35. Ayu Ningtas

    Hidup anak dusun 🙂
    aku dulu juga ngayuh sepeda ontel lungsuran ibuk dari kampung ke SD di kota lamongan jaraknya 15 km, dan 2 km sebelumnya lewati sawah dengan jalan belum aspal.. perjuangan itu jadi cambuk semangat buatku skrng mbak, ga boleh males heheh

    1. Rotun DF

      Hiduuup! Iya bener Yu, jadi cambuk yg menyemangati untuk tetap semangat menjalani hidup dg produktif, insyaAllah <3

  36. Kalo mba ika udah nerbitin 3 buku kayaknya nyak rotun bakal nyusul nerbitin ini, sangat inspiratif mengingat anak muda zaman skr manja-manja. Duh terharu sekali perjuangannya, tp sebenarnya dr perjuangan itu jd bekal hidup juga ya. Ditunggu kisah selanjutnya ya

    1. Rotun DF

      Allahumma Aamin..Makasih doanya Raisa. Sip, insyaAllah segera tayang ya kelanjutannya 😉

  37. Ceritanya mengalir, enak dibaca mak ^^

  38. Dzulfikar

    Jadi inget kampung kalo lihat jalan kecil yang membelah sawah kek gitu

  39. nice kak artikelnya, thanks terharu

    1. Rotun DF

      Makasih apresiasinya. Makasih juga udah mampir ya.

  40. Rotun DF

    Waaahh…masih SMA? Udah ngeblog? Keren kamu. Tetep konsisten ya 🙂

  41. Duh, kok kita senasib, ceritanya mirip mirip. Hihihi. Smangat makk

  42. […] [Baca Juga: Rotun Si Anak Dusun] […]

  43. may

    Ditunggu kelanjutan ceritanya mbak

Leave a Reply

Required fields are marked*