Ingin Menambah Anak? Ini dia 4 Hal yang Biasanya Jadi Pertimbangan Para Orang Tua

August 2, 201724 Comments
Blog post

Memiliki atau bahkan menambah jumlah anak adalah hak setiap keluarga. Tapi setidaknya, pasti ada beberapa hal yang biasanya dijadikan pertimbangan. Mulai dari dana, ilmu, hingga stok sabar yang kudu melimpah! Lanjut baca dan sharing yuk ๐Ÿ™‚

Jaman masih gadis, jaman belum tahu rasanya jadi orang tua kayak apa, saya suka heran dan menyayangkan kalau ada orang yang -let say pinter mendidik anak- tapi kok anaknya dikit.

Yang masih inget banget Mba Helvy Tiana Rosa sama adeknya, Asma Nadia. Beliau berdua ini kan sering nulis buku, baik fiksi maupun non fiksi tentang rumah tangga dan pengasuhan anak, jadi sedikit banyak saya tau seperti apa anak-anak mereka. Di situ saya suka mikir, orang-orang kayak gini mbok ya anaknya yang banyak. Sayang kalau cuma dua.

Pokoknya tiap saya ketemu orang tua, apalagi yang udah ketahuan anaknya sukses dan sholeh, dan jumlahnya dikit, saya yang ngerasa sayang aja gitu. Padahal mah apa urusan saya ya, hahaha.

Lalu apa yang terjadi setelah saya jadi mamak beranak dua? Oh, ternyata jadi orang tua itu NGGAK GAMPANG LOH. Mengasuh dan mendidik anak untuk jadi anak yang cerdas lagi sholeh, itu pekerjaan yang berat. Apalagi di jaman sekarang T_T

Kenapa Ingin Menambah Anak?

Pernah suatu kali, salah satu teman di grup parenting yang saya ikuti, mengutarakan keinginannya untuk memiliki anak lagi. Atau lebih tepatnya, meminta pertimbangan bagaimana kalau ia menambah momongan.

Saat ini ia sudah memliki 2 anak. Anak pertamanya laki-laki, anak keduanya perempuan. Komplit ya, sudah sepasang. Begitu kebanyakan tanggapan dari kita jika melihat hal tersebut *pengalaman pribadi* :D. Lalu, di mana masalahnya?

Wuooh..banyak. Ada di mana mana. Setidaknya itu yang kami rasakan sebagai ’emak cantik anaknya dua’ dan ditambah dengan jarak kelahiran yang dekat.

Guilty feeling sama si kakak karena merasa belum cukup memberikan kasih sayang dan keburu memberinya adik, si kakak yang kemudian menjadi banyak tingkah, atau seperti saya di masa setahun atau dua tahun yang lalu: rebutan segala hal tak berkesudahan -__-

Baca: Lelah ini Akan Berbuah Manis

Hal itu menjadi curhatan ‘wajib’ kami di grup. Jika ada yang curhat,

“Mba, kenapa ya sekarang anak pertamaku kayak caper, minta perhatian banget. Ada aja ulahnya, bikin kepala emaknya ngebul”

Maka ramailah tanggapan bernada sama:

“Iiih..samaaa..anakku juga lagi gitu. Emang lagi masanya kali ya?”

“Been there, Mba. Sabar ya”

De es be de es be.

Nah, terus udah ngerti begitu, udah ngerti repotnya punya anak dua, kenapa masih pengen nambah anak? Mau lebih berasep lagi kepalanya?

Begini, teman saya itu menanyakan perihal Kanjeng Nabi yang katanya suka pada perempuan subur, beranak banyak dan menjadikan beliau berbangga di hadapan para nabi di hari kiamat. Pernah mendengar tentang hadits ini? Saya kutipkan haditsnya ya:

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata:

“Rasulullah SAW memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda, nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi di hari kiamat.”

Tentu sebagai umat Nabi, kita ingin menjadi salah satu kontributor banyaknya umat beliau yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan di muka bumi sehingga kelak akan dibanggakan di hari kiamat.

Begitu kira-kira obrolan kami di grup malam itu.

Oke, jadi bagaimana? Di saat kita kayaknya kok nggak sanggup punya banyak anak, karena punya dua aja udah hampir potel pala pevita :v.

Akhirnya kita mencoba menggali hadits tersebut. Yang digaris bawahi adalah banyak bukan sembarang banyak, yang sring diibaratkan buih di lautan. Tapi yang “khairunnas anfaahum linnas” umat Nabi Muhammad yang BANYAK manfaatnya untuk umat.

Jadi pertanyaannya adalah, bisakan kita mendidik anak-anak -yang banyak- menjadi manusia sukses nan sholeh yang nantinya banyak bermanfaat di muka bumi dan menjadi kebanggaan nabi?

Bisakah kita???

Bisa. Dengan pertolongan Allah.

Tapi tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Hadiahnya nggak nanggung-nanggung soalnya: SURGA. Kalau mudah, hadiahnya paling kipas angin, hehehe.

Lalu bagaimana? Nah berikut adalah hasil diskusi lanjutan kami, bahwa setidaknya ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan.

4 hal yang bisa dijadikan pertimbangan menambah anak.

1. UANG

Bukan, bukan saya tidak percaya pada ungkapan banyak anak banyak rejeki. Karena rejeki itu murni hak prerogatif Allah. Rejeki pertama tentu saja berwujud anak. Anak kan rejeki. Setuju?

Punya anak banyak biayanya? Silahkan jawab sendiri. Karena masing-masing orang beda. Ada yang kontrol cukup ke puskesmas, lahir di puskesmas, dan gratis, ada. Ada yang kontrol ke SpOG, lahir di Rumah Sakit, beda lagi. Semua sesuai kemampuan masing-masing.

Saya sendiri punya pengalaman yang agak traumatis di anak pertama. Dengan kehamilan yang sehat dan tak pernah ada masalah, nggak pernah morning sick, sehat sentosa sampai menjelang kelahiran.

Manalah saya menduga ternyata ketika kontraksi datang dan berangkat ke Rumah Sakit, bayi saya yang kelilit tali pusar mengalami status gawat janin karena detak jantungnya melemah tiap kali saya kontraksi.

Dan kemudian dalam waktu 15 menit saya dan suami harus memutuskan apakah akan menuruti saran dokter untuk operasi caesar ataukah kekeuh mau lahiran normal. Jujur kami nggak siap sama sekali untuk operasi. Psikis jelas, tapi terutama dana.

Iya, kami hanya prepare dana untuk lahiran normal. Maklum, saat itu kami masih pengantin baru, tabungan masih dikit, rumah masih ngontrak, ya gitu deh. Singkatnya saya operasi dan menghabiskan dana 10 juta lebih.

Dari mana saya dapat uang untuk membayar, off the record aja ya, heheheh..mudah2an bisa diambil hikmahnya, bahwa sebaik apapun rencana kita, tetap saja itu hanya rencana manusia, yang ketentuan akhirnya tetap ada di tangan-Nya.

Eh, semuanya pasti tau ya Gen Halilintar. Warbiyasa ya, masya Allah. Anaknya SEBELAS. Tapi tau juga kan ya kalau mereka horang kayah yang peternakannya di Ostrali katanya seluas kampus UI? Tau juga kan rumahnya kaya apa? Buesaar dan kamarnya banyaaak.

Iyalah, kalau punya anak banyak, kamarnya juga harus banyak. Masa anak sebelas mau di tumplekin di satu kamar? Dengan kondisi jaman macam sekarang?

Itu baru masalah kamar, belum kebutuhan anak, sekolah dan lain-lain.

2. ILMU

Bikin anak butuh ilmu? Nggak sih. Kita udah dibekali oleh Allah dengan kemampuan membuat anak. If you know what I mean. Membesarkan dan mendidik anak butuh ilmu? BUTUH BANGET.

Jaman sekarang udah pada sadar dong ya bahwa peran utama pendidikan anak adalah dari orangtuanya. Dari keluarganya. Dan di jaman sekarang, tantangannya beda banget sama jaman kita kecil dulu.

Kayaknya udah nggak perlu saya jelaskan panjang lebar untuk bab ini. Pembaca blog saya kan cerdas-cerdas. Eheum ๐Ÿ™‚

3. KESABARAN

Fyuuuh…lap keringet dulu ngomongin sabar. Ujian paling berat bagi orang tua adalah tetap waras dan menjaga kesabaran dalam mendampingi tumbuh kembang mereka yang luaarrr biasah.

Dari baru lahir berupa bayi yang hanya bisa nangis, batita, balita, remaja bahkan dewasa kesabaran kita akan terus diuji. Kenapa? Karena anak adalah ujian. Masih suka nggak sabar? Sama. Saya juga masih suka nggak sabaran ๐Ÿ™

Sabar ini erat kaitannya dengan mental ya. Dan mental ibu adalah koentji untuk mendidik anak. Ibu yang bahagia, mendidik dengan bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia pula.

Kita pasti nggak mau kan ndidik anak asal-asalan. Nggak cuma asal anak diem. Minta apa aja dikasih. Ada banyak hal yang pastinya menguras emosi dan kesabaran.

Ada mengajarkan adab pada anak yang harus diulang-ulang-ulang sampaaaii 5000 kali. Ada disiplin yang harus ditegakkan yang dalam peng-instal-annya sering kali menguras energi dan emosi.

Yha, begitu.

4. TENAGA

Perempuan setrong mana suaranya? Hihi, perempuan katanya harus setrong ya, kuat jiwa raga, nggak boleh lemah, nggak boleh cengeng tapi tetep harus cantik. Bayangkan banyaknya peran yang harus kita sandang ketika telah menikah dan memiliki anak. Ibu, guru, baby sitter, manajer, dokter. Banyaaaak syekali.

Saya punya anak dua aja udah kurus kering begini *padahal emang dari sononya kurus*. Nah, kalau kita punya banyak anak, sanggupkahย  tenaga kita? Oh, sanggup. Punya pembantu dua, nanny masing2 anak satu, tukang kebon, supir, ada semua. Oh, itu sih kembali ke poin pertama ya. Uang. Hehehee…

______

Well, itu tadi 4 pertimbangan yang paling tidak bisa kita diskusikan bersama pasangan saat ingin memiliki banyak anak. Ohya, terakhir: memiliki banyak anak itu SUNNAH, sedangkan mendidik anak menjadi sholeh adalah WAJIB.

Kalau bisa keduanya, Masya Allah. Keren luar biasa. Tapi, jika kita hanya mengedepankan sunnah dan mengabaikan yang wajib? Atuhlah kumaha^^

Banyak keluarga yang saya tau sudah berhasil mendidik putra- putrinya menjadi generasi cerdas dan shalih shalihah. Dua diantaranya Ibu Yoyoh Yusroh (alm), Ibu Wirianingsih, yang memiliki 11 anak, cerdas-cerdas, santun dan…hafidz Quran. Masya Allah. Silahkan gugling untuk tau lebih banyak tentang 2 keluarga ini.

Tapi saya juga pernah melihat acaranya Deddy Corbuzier yang menghadirkan keluarga dengan banyak anak. Anak-anaknya suka memungut sisa-sisa beras dan sayuran di pasar, untuk dimasak dan dimakan sekeluarga T_T.

By the way, biasanya kalau anak masih kecil memang niatan nambah momongan belum ada. Tapi kalau anak-anak udah mulai besar, udah mandiri, udah jarang berantem-berantem lagi, mulai deh pengen lagi gendong bayi lagi. Eh, apa saya doang :p

Baca: Sentuhan Pertama Untuknya

Sebagai penutup, semuanya memang kembali ke keluarga masing-masing. Karena memiliki anak, bagaimana cara membesarkan, mengasuh dan mendidik, itu hal yang sangat-sangat personal.

Karena,

Setiap keluarga mempunyai kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda.

Setiap keluarga punya pertimbangan yang berbeda-beda.

Dan setiap keluarga berhak memutuskan mana yang terbaik bagi mereka.

Dan di atas segalanya, ada Dia, yang ketika ingin menitipkan anak di rahim kita, cukup berkata ‘JADI’, maka jadilah.

Kalau kalian, mau punya anak berapa? Dan apa saja pertimbangannya? Sharing yuuk ๐Ÿ™‚

_____

Salam,

Nyak Rotun

Prev Post Next Post