Pengalaman Terkena Mastitis: Penyebab dan Cara Mengobatinya

August 25, 201622 Comments
Blog post

Pengalaman terkena mastitis: apa saja penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.

Setelah menikah dan menjadi seorang ibu, bulan Agustus menjadi bulan yang lebih spesial bagi saya. Selain memang di bulan ini saya dilahirkan, juga karena setiap tanggal 1-7 Agustus ada hajatan level dunia yang diperingati sebagai World Breastfeeding Week, Pekan ASI Dunia.

Bagaimana tidak spesial, karena saya telah dua kali menjadi pejuang ASI bagi dua anak saya, Wafa dan Ayyas.

Bagi Ibu-ibu yang telah memiliki anak lebih dari satu, pasti sepakat bahwa setiap anak memiliki ceritanya sendiri. Entah itu dari proses kehamilan, menyusui maupun tumbuh kembangnya. Ya, karena sejatinya setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah tidak ada satupun yang sama. Bahkan kembar identik sekalipun. Maha Besar Allah ya.

Dan perbedaan ini akan makin kentara jika kita memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda. Dari proses hamil deh. Katanya kalau hamil anak perempuan si bumilnya jadi seneng dandan, sedangkan kalau hamil anak laki-laki cenderung cuek sama penampilan. Ini mitos apa fakta hayo?

Saya pernah mengalami dua-duanya. Then, saya menyimpulkan itu mitos sih. Karena hamil anak perempuan maupun anak laki-laki ya saya gitu-gitu aja. Nggak yang njomplang banget lah. Terus dua-duanya juga nggak mabok, makan apa aja hayuk, simpelnya sih lancar sampai lahiran. Alhamdulillah.

Cerita Menyusui Dua Anak

Yang paling berasa perbedaannya adalah proses menyusui. Pas nyusuin Wafa nyantai. Meski tetep tiap dua jam sekali berusaha mbangunin tu bayi yang ampun bobo terus, tapi so far lancar-lancar aja. ASI deres tapi ya masih tahap wajar yang nggak banjir kemana-mana.

Nah, sedangkan pas nyusuin bayi laki-laki yaitu si Yahya Ayyash, masya Allah. Saya bener-bener membuktikan teori tentang prinsip ASI yaitu supply and demand. Itu si Ayyas perasaan nyusu nggak ada kenyangnya -____-. Nyusuu terus.

Bentar-bentar nyusu, bentar-bentar laper. Sampai saya sering makan sambil nyusuin. Nggak tahan lapernya bok. Nggak lupa kalau malam mau tidur mbekel air putih sebotol gede dan camilan roti sobek atau biskuit. Kalau nggak saya kalaparan tengah malam, sodaraaa >.<

Nah, karena ASI yang disedot banyak, maka produksinya pun melimpah. Melimpahnya sampai level banjir-banjir. Kalau nyusuin yang kanan, yang kiri ikut ngucur. Sampai saya tampung pakai botol. Lha sayang.

Banyak yang bilang saya harus bersyukur diberi nikmat ASI yang melimpah. Ayyash ginuk-ginuk, mukanya pipi semua dan tangan serta pahanya udah persis roti sobek. Gigitable banget lah, hahaha.

penyebab-dan-cara-menangani-mastitis
Ayyas di usia 2 minggu^^

Saya sangat menikmati proses menyusui, sampai kemudian saya ketemu dengan mas-mas yang membuat proses menyusui saya terasa begitu berat dan menyiksa. Mas siapakah dia?

Terkena Mastitis

Ada Benjolan di Payudara Kanan Saya

Suatu malam, di usianya yang baru 2 minggu, Ayyas tidur begitu lelap. Dan saya yang saat itu masih banyak tamu berdatangan untuk menjenguk di siang harinya, juga tepar. Tepar dalam artian saya nggak bangun buat nyusuin dia. Semalaman -__-

Subuh saya bangun dengan rasa dingin luar biasa. Tubuh saya demam dengan rasa sakit dan nyeri hebat di payudara, terutama yang kanan. Pas saya pegang, udah keras dan grenjel-grenjel. What is grenjel-grenjel? Eerr..Ya gitu deh, banyak kelejar ASI yang menggumpal.

Saya langsung mengompresnya, dan nyusuin Ayyas bergantian. Lega luar biasa rasanya. Tapi pas itu saya ngrasa payudara yang kanan kok masih sakit. Dan saat saya raba, ada benjolan sebesar telur di sana. Ditekan sakit banget Ya Allah T.T.

Pas bilang ke suami, katanya paling itu ASI yang menggumpal, rajin kompres aja. Saya nurut. Pagi sore saya kompres air hangat, lalu nyusuin Ayyas. Gitu terus.

Tapi ternyata di hari kedua, benjolan itu masih betah. Dan makin sakit. Kalau nggak sengaja kesenggol ampun deh pengen jerit saking sakitnya. Saya nanya-nanya ke temen sampai gugling ke internet. Lalu saya tahu bahwa benjolan inilah yang saya katakan sebagai mas-mas yang membuat proses menyusui saya begitu menyiksa.

Apa itu Mastitis?

Dari hasil gugling, saya baru tahu ternyata benjolan di payudara saya bernama Mastitis, yaitu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Semua tanda-tandanya sama dengan yang saya alami, yaitu:

  • Demam
  • Menggigil, nyeri dan ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, bengkak, panas dan terasa sangat nyeri
  • Timbul gurat-gurat merah di sekitar aerola

Dan ternyata ini gejala yang sering dijumpai pada ibu menyusui. Pas itu saya agak berlega hati karena ‘oh bukan cuma saya’. Dan persis, rata-rata mastitis terjadi di periode 6 minggu pertama setelah bayi lahir.

Penyebab Mastitis

Seperti yang saya katakan di awal bahwa proses produksi ASI berprinsip supply and demand, makin banyak dihisap maka semakin banyak diproduksi pula.

Nah, produksi ASI saya yang melimpah, tidak saya keluarkan saat malam Ayyas lelap banget tidurnya itu. Jadinya ASI yang tidak dikeluarkan tadi menekan saluran ASI yang akhirnya menyebabkan statis ASI. Ada beberapa hal lain yang dapat menjadi penyebab terjadinya Mastitis, yaitu:

  1. Puting lecet. Ibu-ibu yang mengalami lecet puting biasanya nyusuin jadi nggak enjoy, dan nggak mengosongkan payudara secara sempurna. Padahal pengosongan payudara dalam proses menyusui sangat penting. Dan puting yang lecet sangat rentan terkena bakteri yang akhirnya bisa menyebabkan infeksi.
  2. Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek. Ini yang terjadi sama saya, karena biasanya frekuensi menyusui sudah teratur, terus keenakan tidur dan akhirnya semalaman nggak nyusuin -__-
  3. Pelekatan bayi pada payudara yang kurang baik. Bayi yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.
  4. Produksi ASI yang terlalu banyak. Ini kasus saya juga.
  5. Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,serpihan kulit, dan lain-lain.
  6. Penggunaan krim pada puting. Hal ini menyebabkan tertutupnya sebagian lubang puting yang menyumbat keluarnya ASI secara sempurna.
  7. Ibu stres atau kelelahan.

Banyak banget ya ternyata penyebab Mastitis ini. Tapi intinya adalah

ASI yang seharusnya dikeluarkan, tidak dikeluarkan sehingga menekan saluran ASI dan menyebabkan peradangan.

Drama Menyembuhkan Mastitis

Pas udah tau tentang Mastitis, saya mencari tips bagaimana untuk menyembuhkannya. Banyaaak yang saya temukan. Ada yang bilang harus rajin ngompres (padahal udah gempor saya ngompres tiap pagi sore), rajin mengosongkan payudara, jadi kalau misal Ayyas nyusu di satu payudara terus udah kenyang, maka payudara yang satunya saya kosongkan dengan pompa dan saya tampung di botol kaca.

Ada juga yang memberi tips dikompres dengan kol yang sudah didinginkan di kulkas. Ini agak berkebalikan dengan kompres air panas ya. Tapi toh tetep saya coba, saking pengennya sembuh :’). Rasanya nyamaaan deh pas lembaran kol yang dingin itu menempel di payudara yang panas dan meradang. Mak ceeesss.

Tapi setelah semua usaha yang saya lakukan, itu benjolan masih betah, dan masih sakit, dan masih meradang. Akhirnya dengan saran dari tetangga, saya pergi ke tukang urut bayi.

Itu sampai sekarang nggak terlupakan sakitnya, huhuhu..bayangin aja payudara yang kalau nggak sengaja kesenggol aja luar biasa sakitnya, ini sama Emak urut di urut sedemikian rupa. Huwaaa, beneran saya sampai jejeritan :(. Habis diurut, payudara saya dipencet dan keluarlah air mancur ASI. Mancur kemana-mana -_____-

Lemes lunglai saya pulang dengan harapan abis itu udah kelar. Sembuh. Ternyata nggak. Akhirnya keesokan paginya saya ke puskesmas. Dan ya, karena saya sedang menyusui dokterpun nggak ngasih obat apa-apa. Hanya wejangan yang saya sudah hafal di luar kepala: KOMPRES.

Komplikasi Mastitis: ABSES

Total tiga hari dari pertama kali terkena mastitis, peradangan saya semakin parah. Jadi kalau dilihat kulit payudara saya di sekitar benjolan semakin menipis, dan timbul bintik-bintik kuning seperti nanah. Ya Allah T.T.

Dan saya inget banget, menjelang sholat dhuhur, di depan kamar mandi saya nangis saking sakitnya dan pengen sembuh. Dan entah karena terkena tekanan bra atau apa, benjolan bernanah itu PECAH.

Panik, saya memanggil Ibu yang saat itu masih di rumah saya menengok cucu keduanya. Suami masih di kantor. Akhirnya tanpa menunggu lama, saya pergi ke puskesmas sendirian. Dan tau apa yang terjadi? Oleh dokter yang sama dengan pertama kali saya periksa, saya langsung dirujuk ke dokter bedah di RSU Fatmawati.

Mastitis3
Ilustrasi komplikasi Mastitis Abses.

Esoknya saya ke RSU Fatmawati. Setelah saya antri panjaaaang (saya pakai BPJS), dokter cuma periksa sebentar dan kata dokter saya terkena komplikasi Mastitis yaitu Abses.  Terkumpulnya cairan yang harus diambil dengan jarum halus atau jika terlalu besar harus dilakukan tindakan bedah. Dan melihat luka saya, dokterpun mengatakan bahwa ini harus dioperasi.

SAYA SYOK!

Pulang kerumah, pikiran saya campur aduk memikirkan operasi, padahal kurang dari 3 minggu sebelumnya saya baru saja menjalani operasi seksio untuk kelahiran Ayyas. Mbuhlah, nangis aja wis.

Iya, saya emang cengeng. Dan tau nggak sih, semenjak benjolan itu pecah, cairan yang ngalir nggak ada berhenti-berhentinya! Mbleber terus. Apalagi kalau buat nyusuin.

Oiya, kata dokter meski terkena Abses, saya tetap boleh menyusui, karena kan pecahnya bukan di puting. Pas saya tanya apa nggak khawatir ASI saya kecampur sama cairan itu, katanya nggak, karena salurannya beda. ASI saya ngalir ke puting, cairan ini ngalir lewat luka. And then tau nggak yang bingung apanya? Nampung cairan yang ngalir terus, huhu..

Tadinya pake tisu yang dilipat trus saya sempilin di bra, jadi kalau cairannya ngalir keserap sama tissue. Tapi kan tisu rapuh bener ya. Bentar doang udah becek. Akhirnya pake sapu tangan, dan habis entah berapa. Sampai pas malem saking putus asanya saya pake diapers ayyas. Entah gimana bentuknya lah nggak usah mbayangin ya >.<

Esok harinya, saya di temenin suami melakukan serangkaian prosedur sebelum operasi: rontgen, periksa darah, memeriksa riwayat alergi, dan lain lain.

Lalu drama selanjutnya terjadi

Dengan membawa semua hasil pemeriksaan, lamanya menunggu yang hampir setengah hari, nggak sebanding dengan ketemu dokternya. Sebentar banget. Udah kaya ngimpi.

Dokter nanya singkat-singkat, terus saya disuruh baring, luka yang saya tutup pakai perban dan lengket kena luka ditariknya begitu saja T.T. Dilihat bentar, terus bilang, “Oh, ini bagus kok Bu. Nggak perlu operasi”.

MAKSUD NGANA??

Ya Allah Dok, kan kemarin dokter yang bilang saya harus operasi. “Oh, nggak kok Bu, bagus ini. Udah bersih”. Saya antara dongkol setengah mati mikir waktu itu ngapain saya periksa segala macem ternyata nggak perlu operasi. Tapi rasa seneng akhirnya ngalahin rasa dongkol saya.

Alhamdulillaaah, saya nggak jadi operasi. Lalu pengobatannya gimana?

Pengobatan dan Perawatan Mastitis Abses

Pulang dari rumah sakit, saya dibekali oleh dokter:

  • 1 botol cairan infus
  • 2 lembar Sufratul
  • 3 gulung kain perban
  • 1 gulung plaster

Jadi setiap pagi dan sore, saya membersihkan dan merawat luka saya dengan cara:

  1. Membersihkan luka dengan kapas yang sudah dibasahi cairan infus
  2. Menggunting dan menempel Sufratul yang berguna untuk mencegah luka saya lengket
  3. Melapisi Sufratul dengan perban dan menutup dengan plaster
  4. Gitu aja terus sampai sembuh

Alhamdulillah, beberapa hari kelihatan progressnya. Luka saya yang tadinya lebar lama-lama makin menciut hingga akhirnya menutup dengan sempurna. Kalau nggak salah ingat kurang dari dua minggu.

Ralat: Nggak sempurna sih, semacam bekas bisul gitu, tapi dikiiit banget.

Dan happy ending karena akhirnya saya lulus memberi ASI untuk Ayyas hingga full 2 tahun dan menyapihnya 4 bulan yang lalu. Yeaaayyy!

______________________

Fyuuuuh…panjang banget ya cerita tentang Mastitis: penyebab dan cara mengatasinya ini. Semoga pengalaman saya bisa berguna untuk ibu-ibu menyusui di manapun berada.

Pesan moralnya adalah:

  • Selalu kosongkan payudara. Jika anak sudah selesai menyusu dan masih ada payudara yang penuh, segera perah dan keluarkan. Meski nggak bekerja dan nggak pernah ninggalin anak kayak saya, nggak ada salahnya kok stok ASI perah. Siapa tau dibutuhkan suatu saat.
  • Jangan malas membersihkan payudara dan terutama puting.
  • Jangan pernah menyepelekan keluhan saat menyusui, sekecil apapun. Misal puting lecet, benjolan yang tak wajar, atau rasa sakit yang lain dari biasanya.
  • Jika ada keluhan seputar menyusui, SEGERA konsultasikan ke konselor laktasi atau dokter terdekat. Jangan kayak saya nunda-nunda dan menerima berbagai saran darimana aja yang akhirnya berujung bukannya sembuh tapi makin parah.
  • Jangan jadikan kendala yang ditemui selama proses menyusui menjadi penghambat kita untuk meneruskan pemberian ASI bagi si kecil. Banyak ibu-ibu yang terkena mastitis akhirnya nggak mau nyusuin lagi karena sakit dan khawatir berbahaya bagi bayinya.
  • Segala sesuatu perlu ilmu. Makanya jangan malas mencari ilmu dengan catatan ke ahlinya. Jangan modal gugling doang yes -__-
  • Terlepas dari semua itu, luar biasa kan ya menjadi seorang ibu. Ya hamil ya menyusui selalu penuh cerita dan perjuangan. Tapi jika kita ikhlas dan bahagia, semuanya akan terbayar kok dengan bayi kita yang tumbuh sehat dari hari ke hari.

Jadi, jangan patah semangat ya ibu-ibu pejuang ASI. Tetap SEMANGAT NGASI!!!^^

Tons of love,

Prev Post Next Post