#MondayMarriage: Istri Sensi Vs Suami Cuek

Senin, 29 Agustus 201630 Comments
Blog post

Istri yang sensi versus suami yang super cuek menjadi masalah yang banyaaak dialami sama suami istri. Apalagi saat penyesuain di masa pengantin baru. Ehm!

Entah karena pola asuh masa lalu, atau karena saya terbiasa menjadi sosok kakak yang senang mengatur segala sesuatu, setelah menikah saya menjadi pribadi yang susah sekali berkompromi meski pada hal-hal kecil.

Apalagi kemudian saya mendapat suami yang cenderung kalem, pendiam dan santai dalam menghadapi sesuatu. Sementara saya sangat ekspresif, cenderung meledak-ledak, dan panikan. Jika dilihat sepintas, mungkin malah bisa seimbang. Simpelnya saya yang ‘panas’ bisa didinginkan oleh suami.

Nyatanya? Nggak semudah itu, Ferguso.

Seringkali saya gregetan akan tingkah polah suami. Jangan heran, soalnya kita dulu nikah nggak pakai pacaran. Ketemu 5 kali untuk ta’aruf, silaturrahim keluarga, khitbah (lamaran), urus ini itu di KUA, dan keenam kalinya kita ketemu untuk ijab qabul, ehehehe.

Jadilah bener-bener kita bisa belajar untuk bisa memahami dan kenal satu sama lain lebih dekat ya setelah menikah.

Dan lagi, sebelum menikah, saya dan suami sama-sama belum pernah pacaran. Jadi…inilah hubungan pertama kali kami dengan lawan jenis. Kami belajar jungkir balik untuk bisa memahami makhluk lain jenis yang kadang yaampun nyebelin banget dari sudut pandang masing-masing.

Inget banget momen berantem pertama justru saat kita lagi bulan madu. Berbeda pendapat tentang sesuatu yang kalau diingat sekarang sepele banget, sukses bikin saya ngambek seharian. LOL.

Dia? Bingung mau ngapain. Di pikirannya ini perempuan maunya apa sih? Di tanya diem aja, makin ditanya malah nangis, tapi di diemin katanya nggak peka. Begitulah wanita ya XD.

Sekarang udah nikah selama 6 tahun. Lebih mengenal iyalah pasti. Tapi apa adat ngambekan saya udah ilang? Hmm..kasih tau nggak ya? :p.

Sependek ingatan saya, 4 tahun pertama pernikahan bisa berjalan dengan cukup baik. Ini nggak lepas dari sifat ngemong dan ngalahnya suami sih kalau saya bilang *tutup muka*.

Kalau saya pikir-pikir, jodoh memang nggak akan tertukar. Kalau saya berjodoh dengan orang yang karakternya sama kayak saya, mungkin bakalan berantem tiap hari. Saya ngambek,malah dimarahin. Saya marah, dia tambah marah. Gitu kali ya?

Memang katanya ngambek adalah senjata andalan perempuan. Terutama jka permintaannya nggak dituruti. Pasang wajah manyun, sedih, tambahkan genangan air mata. Langsung deh suami luluh, ahahaha.

Lalu apakah selalu berhasil? Ada yang berhasil, ada yang nggak. Terutama jika suami tipenya cuek. Paling nggak enak itu ngambek dan…dicuekin :v.

Ada tipe suami cuek yang kadang nggak peka sama perasaan istri. Bercanda kebablasan, kalau mengkritik istri nggak pakai tedeng aling-aling, atau kurang mengapresiasi segala jerih payah istri.

[ Baca juga: #MondayMarriage: Cantik di Mata Suami ]

Istri Sensi vs Suami Cuek, Harus Bagaimana?

Balik lagi ke kunci segala problematika rumah tangga: KOMUNIKASI

Sikap saling pengertian dan terbuka. Cara lain ada nggak? Ada. Diem aja, perbanyak sabar. Gitu aja terus sampai akhir jaman.

Padahal nggak selamanya diam itu baik, gaes. Karena dengan diamnya istri, suami nggak akan tau kalau ada sikapnya yang menyakiti hati istri. Dan dengan diamnya suami, bisa jadi istri tidak tau kalau dia melakukan sesuatu yang salah.

Atau bisa jadi tau dia salah, tapi karena suami diem aja yaudah tambah menjadi deh. Seperti kasus saya.

Saat dua tahun lalu kami pindah ke Palopo, kami harus menyesuaikan diri dengan banyak hal baru. Saya yang tadinya di Jakarta bekerja, setiap hari keluar rumah, tiba-tiba harus di rumah setiap hari bersama satu batita dan satu bayi dengan lingkungan yang asing.

Saat itu saya benar-benar frustasi dan celakanya sering menjadikan suami sebagai pelampiasan. Dia pulang telat dikit, saya ngambek. Dia janji mau ngajak makan di luar tapi terus anak-anak bobo cepet dan akhirnya nggak jadi, saya ngambek. Laaah, padahal itu salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?

Tadinya selama suami diam, sayanya keenakan. Keenakan ngambek, keenakan merajuk. Sometimes ngerasa ih gue nggak bener ini sama suami kok gini amat. Tapi terus ego mengalahkan logika.

Syukurnya, ada titik balik untuk itu semua. Pada akhirnya.

Mungkin karena sudah nggak tahan, atau mungkin dapet ilham, akhirnya suami bicara serius tentang hal ini. Dan dengan suami bicara terbuka, saya jadi tau. Tau bahwa saya salah dan dia nggak suka itu. Saat itu saya sampai menuliskannya di status Facebook saya.

And guess what? Banyak banget yang ngaku kalau masih suka ngambek dan merajuk. Ternyata saya banyak temennya *eh.

Mau cerita ya.

Pernah suatu kali saya minta dibeliin baju. Tentu nggak ujug-ujug minta dong. Biasalah, basa basi dulu dengan nunjukin baju yang ditaksir, “Liat deh, Beb. Bajunya cakep ya. Pastel gitu warnanya”.

Eeeeh dengan santainya di menjawab, “Itu kan kelihatan cakep karena yang make juga cakep”.

Wait, whaaattt? Jadi maksudnya istrinya ini nggak cakep?

Nggak, saya nggak ngomong begitu, saya diem aja. Dengan luka hati yang menganga *lebay*. Pas suami nanya kenapa saya tiba-tiba jadi diem aja dan saya jawab lagi ngambek, dengan polosnya dia malah nanya, “Ngambek kenapa, ada yang salah ya?”.

Hih, pengen nabok rasanya. Terus katanya lagi, mana tau kamu ngambeknya karena apa, wong kamu nggak bilang. Aku kan bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu.

Iya sih. Bener.

Padahal kalau saya ngomong, bisa jadi lebih baik. Tentu dengan suasana yang enak dan cara penyampaian yang baik pula.

Bayangkan misal saya menyampaikan dengan kalimat, “Mikir dulu kek kalau mau ngomong. Maksudnya apa itu tadi ngomong kayak gitu? Ngatain aku nggak cakep? Kalau nggak cakep kenapa dulu mau nikah sama aku?”

Dududu…jadi panjang kemana-mana. Yang tadinya kita mau nyampein uneg-uneg, yang ada malah berantem kayaknya XD.

Lain kalau ngomong baik-baik, “Aku tadi sedih pas kamu ngomong kayak gitu. Langsung baper ngerasa kamu nganggap aku nggak cakep”. Tentu lebih memelas enak didengar dan bisa berlanjut dengan solusi misalnya lain kali suami harus lebih menjaga ucapan, terutama yang menyangkut hal-hal yang sensitif bagi istri.

Katakan juga misalnya kalau lagi ngambek atau bad mood, kita pengennya dipeluk, atau pengen dibiarin sendiri dulu, atau pengen dikasih es krim sama coklat :v.

Intinya, menyikapi hal yang kurang baik dengan sikap yang kurang baik, nggak akan menyelesaikan masalah. Kalau saya belajar untuk berkaca dan berempati dengan ‘kalau aku ditegur kayak gitu seneng nggak ya?’ Gitu sih.

Kunci yang paling penting tetep ada di DIRI SENDIRI

Maksudnya gini, saat saya dalam kondisi yang baik, maka sikap saya juga akan baik. Saya bahagia maka saya akan menularkan bahagia itu seantero rumah. Tapi saat saya capek, bete, stress, maka suami dan anak-anak yang akan menjadi pelampiasan. *Sigh*

Seperti kasus pindah ke Palopo. Saat saya merasa sendiri, nggak betah, bosen, maka saya mudah sekali marah dan ngambek dengan alasan yang sepele. Tapi saat saya sudah bisa berdamai dengan perubahan, menemukan hobi dan passion di masak dan nulis, saya bisa menyalurkan energi dengan lebih positif, maka emosi sayapun lebih positif.

Dan ini penting banget karena kita ini Ibu ya kan? Ibu yang sangat berpengaruh pada kondisi rumah agar menjelma menjadi surga kecil yang selalu dirindukan :’).

Jadi penting bagi kita untuk tetap menjaga kewarasan dan kebahagiaan. Jangan terlalu menggantungkan kebahagiaan kita ke hal lain atau orang lain, misalnya ke suami. Sehingga pas ada tingkah laku suami yang kurang baik, kita langsung patah hati dan kecewa :’).

Kebahagiaan itu kita yang ciptakan sendiri. Dari hati yang ikhlas dan selalu bersyukur. NTMS. *ngomong sama kaca*.

Dan saya banyak belajar bahwa menjadi istri yang terlalu sensi itu nggak ngenakin. Bener deh. Bikin capek sendiri. Jadi ya, harus bener-bener memilah dan memilih mana masalah yang bisa dibikin selow dan mana masalah yang harus di sensiin.

Iya, kita perlu juga kok untuk sensi.

Sensi terhadap kebutuhan suami. Kapan dia butuh didengarkan, kapan dia butuh dimanjakan, apa yang dia sukai, apa yang tidak dia sukai atau apa-apa yang membuatnya bahagia. Suami tentunya harus lebih sensi terhadap perasaan istri juga ya 😉

Wiiih, panjang yaa…tapi semoga dapet benang merahnya. Istri sensi vs suami cuek? Diomongin atuh! Semoga kita bisa menghebat bersama dan menjadi pasangan yang saling mengerti dan memahami satu sama lain ya^^

Jadi, ada yang sensi dan ngambekan kayak saya (dulu)? Gimana cara menguranginya? Sharing yuk!

Tons of love,

30 Comments

  • Rach Alida Bahaweres

    Senin, 29 Agustus 2016 at 2:34 PM

    Komunikasi memang penting banget untuk pasangan suami istri ya mba.
    Kalau komunikasi harus dari hati ke hati 🙂

    1. Rotun DF

      Selasa, 30 Agustus 2016 at 5:45 PM

      Iya Mba, betuul sekali^^

  • Lidha Maul

    Senin, 29 Agustus 2016 at 2:50 PM

    jadi…jadi…jadi yg sering beib-beib di fb bisa juga to begini.
    Nappa to wisseng
    .
    .
    #dapat kok nyak benang merahnya

    1. Rotun DF

      Selasa, 30 Agustus 2016 at 5:47 PM

      Wkwkwk, bisa Lid..bisaaa xD
      Alhamdulillah kalo dapet. Nulisnya rada hati-hati soalnya ini *eh

  • Grace Melia

    Senin, 29 Agustus 2016 at 6:40 PM

    Aku banget doooonngg sensi dan pundungan. HAHAHAHAHAHAHA. Tapi seiring berjalannya waktu, aku semakin dewasa. Bahahah *HOEK* Nggak deng. Adit banyak ngalah. Jadi lama-lama, aku gaenak hati kalau terus pundungan *___*

    1. Rotun DF

      Selasa, 30 Agustus 2016 at 5:54 PM

      Laaah samaaa..*tosss*
      Sama lagi bagian gak enak hati ngembak molo. Hahahaha

  • Wina

    Selasa, 30 Agustus 2016 at 7:27 PM

    Haiyah… Aq banget nih mba dan masih berlanjut sampe skrg, maklum baru 3th. Hehe *alesan :p

    Kepengen bicara dari hati ke hati tp belum ada waktu krn banyak hal :'(

    1. Rotun DF

      Kamis, 1 September 2016 at 9:23 AM

      Hayuk disempetin Mba, jangan dibiarkan berlarut-larut 🙂

  • Prima Hapsari

    Rabu, 31 Agustus 2016 at 5:14 AM

    Sama mbak, saya panas dan suami dingin tapi jarang ngambek sih, hehehe.

    Yang penting komunikasi n saling ngerti yaa, karena kalo udah sifat tuh susah diubah sepertinya.

    1. Rotun DF

      Kamis, 1 September 2016 at 9:24 AM

      Setuju Mba. Harus saling mengerti satu sama lain 🙂

  • bundashidqi lia

    Rabu, 31 Agustus 2016 at 6:53 AM

    hihihi ini sih sama bgt dengan kondisi awal kami nikah, gak pacaran akhirnya bisa menyesuaikan diri dan adem mulai tahun ke-5, aku setuju jd org baperan sgt tidak enak!!

    Skrg pernikahan kami menginjak thn ke-11, alhamdulillah udah lbh easy going 🙂

    1. Rotun DF

      Kamis, 1 September 2016 at 9:26 AM

      Waaa..udah 11 tahuun. Samawas selalu ya Mba 🙂

  • Keke Naima

    Rabu, 31 Agustus 2016 at 5:04 PM

    Saya ma suami banget ini yang kayak gini. Sampe sekarang pun masih suka sensian. Tapi lama-lama sudah saling mengerti aja lah. Memang kuncinya di komunikasi 🙂

    1. Rotun DF

      Kamis, 1 September 2016 at 9:27 AM

      Ternyata banyak yang sama, hihi

  • Indah

    Rabu, 31 Agustus 2016 at 5:39 PM

    penyesuaian memang perlu waktu ya mba.. Yang penting sering-sering komunikasi aja, lama-lama ketemu ritmenya kok 🙂

    1. Rotun DF

      Sabtu, 3 September 2016 at 11:48 AM

      Hooh Mba, masih terus belajar ini^^

  • Nining

    Jumat, 2 September 2016 at 6:28 AM

    Hahahaha aku banget nih mba, setahun di awal pernikahan duh tiap bulan hampir berantem terus. Tapi nggak pernah sekalipun masang status di facebook, ntah sepertinya sejak saya patah hati kapan itu *eciyeee* kok curcol. Sejak itu saya beritikad nggak akan masang status apapun tentang kehidupan pribadi, akhirnya kebawa sampe nikah hihihi.

    Karena menurut saya, kalo kita masang status, begitu yang komen senasib, eh kitanya jadi brasa kek ada temen. Nggak mau introspeksi diri.

    Tapi balik lagi, jodoh nggak akan tertukar, suami ngajak ngomong serius berarti sebenarnya dia memperhatikan tingkah pola kita. Cuman, nunggu timing yang pas aja hihi, maap ya komenku panjaaaang bener. Jadi tjurhat 🙂

    1. Rotun DF

      Sabtu, 3 September 2016 at 11:50 AM

      Nah iya beneeer. Kadang kalau melihat hal yang serupa jadi merasa lumrah dan nggak merasa bersalah, hiks.
      Hahaha, nggak papa kok. Curhat diterima *eh xD

  • Heni Puspita

    Sabtu, 3 September 2016 at 8:35 AM

    Aku sensi dan suamiku cuek hi hi hi. Tapi bersyukur sama sifat cuek tapi sabarnya. Kalau dua duanya sama-sama baperan apalah jadinya 😀 Jadi alhamdulillah bisa saling melengkapi, cieeeh.

    1. Rotun DF

      Sabtu, 3 September 2016 at 11:52 AM

      Ciee..Mama Rayyan xD.
      Betuul. Kalau sama2 baperan bisa heboh dunia persilatan, wkwkwk.

  • Vita Ayu Kusuma Dewi

    Sabtu, 3 September 2016 at 7:38 PM

    Hihi…kisahnya mbak bikin mupeng ingin segera ngerasain rumah tangga.hehe.. Iya mbak saya juga setuju komunikasi menjadi kunci juga, karena terkadang hanya karena komunikasi yang kurang tepat aja bisa memicu keretakan RT

    1. Rotun DF

      Selasa, 6 September 2016 at 5:54 AM

      Hihi, semoga disegerakan yaa..:)
      Jodoh akan datang dengan cara yang baik dalam waktu yang baik pula. Asik.

  • fanny fristhika nila

    Senin, 5 September 2016 at 11:04 PM

    hahaha ini mah aku banget mbak ;p… akunya sensian, suami cuek luar binasa ;p.. dulu sih aku slalu blak2an kalo ga suka ama sesuatu.. pasti bilang ke suami… tp stlh nikah, kyknya malah jd lbh srg dipendam :(.. walopun ujung2nya kalo udh ga tahan banget ya diluapin, ato malah suka adem sendiri… ga bagus sih sbnrnya yg begitu, krn malah ga nyelesein masalah dan si suami cuek ttp aja ga tau apa2 di mana salah dia ;p ..jadi memang, harus komunikasi intinya…

    1. Rotun DF

      Selasa, 6 September 2016 at 6:04 AM

      Bukan diendem kali, tapi pura-pura mendem biar diperhatikan sama suami, wekekek.
      Iya bener, kalau mendem manalah dia tau kan.

  • Stop Jajan Diluar, Berikut Alasannya · Elisa Monic

    Senin, 27 Februari 2017 at 2:09 PM

    […] Baca juga: istri sensi vs suami cuek […]

  • indira

    Minggu, 7 Mei 2017 at 9:02 PM

    Hahaha..lucuk banget Sist..sama kek kami, bera budaya Satu Sumatra, Satu jawa.. Satu tegas, Satu kalem..dramaaa *lebay* ^^

  • Mukti widodo

    Senin, 20 Agustus 2018 at 8:13 PM

    Maaf sebelumnya, saya (suami) pun demikian sdh hampir 2 bulan tidak tegur sapa, tapi saya sadar saya yg salah, sampai nomer wa saya d blokir sama istri lalu apa yang harus saya lakukan? Saya sih cuek malah saya tantangi hayo sampai km sanggup. Mau sampai kiamat hayo. Apakah saya(suami) salah. Sampai hubungan seks terganggu saya sebagai suami masih butuh gaiirah seks. Sampai punya pikiran apa harus jajan di luar untuk seks.

  • Mukti widodo

    Senin, 20 Agustus 2018 at 8:14 PM

    Maaf sebelumnya, saya (suami) pun demikian sdh hampir 2 bulan tidak tegur sapa, tapi saya sadar saya yg salah, sampai nomer wa saya d blokir sama istri lalu apa yang harus saya lakukan? Saya sih cuek malah saya tantangi hayo sampai km sanggup. Mau sampai kiamat hayo. Apakah saya(suami) salah. Sampai hubungan seks terganggu saya sebagai suami masih butuh gaiirah seks. Sampai punya pikiran apa harus jajan di luar untuk seks. Lalu jika saya tetap ikutan cuek bgmn?

  • Tuty ernawati

    Rabu, 19 September 2018 at 5:05 AM

    Maaf yah bukannya sy mau mengajari,klo dr saya,sbaiknya pak mukti mengalah sama istri,mnta maaf dgn cara yg baik..dgn lemah lembut,insya Allah iatrinya bakalan luluh..kasi hadiah kah trs kasi ucapan permohonan maaf..dijamin deh istri jd klepek2..hehe
    Yah dlm berumah tangga musti saling mengerti..ada masalah diselesaikan dgn baik2..jgn didiemin ..

  • Kurang Percaya Diri Saat Berhubungan Intim dengan Suami? Atasi dengan Cara ini Yuk! – Nyakrotun

    Senin, 29 Oktober 2018 at 9:55 AM

    […] dukungan atau pembenaran bahwa, oh ternyata bukan aku doang ya yang begini. Misal dalam bahasan istri sensi vs suami cuek, komen yang masuk kebanyakan bilang, ‘Ih, kok sama banget’, ‘Ya ampun Nyak, ini mah aku dan […]

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev Post Next Post